Kamis, 14 Maret 2024

SELAMAT PAGI MENTARI - Cerpen Karya Gabriele Richard & The Holy Spirit




" Thenk!! thenk!!.....waktunya makaaaan!! "  seorang laki laki gemuk ,memukul sebuah wajan kosong mondar mandir di kamar kamar yang semuanya tertutup dan terkunci rapat dari dalam .

Lokasi itu adalah asrama kost yang harga sewanya mencakup biaya makan tiga kali.


Sesaat setelah ada tanda makan,satu persatu pintu dibuka penghuni kamar.

Mereka agak berebut mencapai pintu keluar kearah dapur  yang makin sempit oleh tubuh pria gemuk itu.


" Big,kamu masak apa ?" tanya Edo yang lebih santai dari pada penghuni kamar lain.

Ia bertanya pada pria gemuk itu yang memang adalah sepupunya yang bertugas sebagai juru masak di rumah kost milik kakek mereka 

" Ada dech...yang penting layak saji dan bergizi .." jawab si Big lebih santai dari situasi Edo.

" Woi...yang diet ,tukar dagingnya dengan sayur kita...! "  seru Edo saat para penghuni itu antrian mengambil prasmanan .

Edo bertanya tadi untuk memastikan kondisi lauk menu hari itu ,yang mungkin jadi pantangan rekan seasramanya.

Ada seorang memang sedang diet ,ia segera menuang daging kepiring  makan Edo dan ia mengambil sayur dua kali lipat dari umumnya di tempat sayur.

" Big,memang beda ya? kelakuan anak anak kuliah dengan anak rata rata.  "  Kata Edo pada Big yang mengawasi mereka mengambil makanan .

" Maksudnya,mereka jujur dan disiplin menghitung makanan hak mereka?" tanya Big

" Betuuul banget,mereka yang diet dagingnya dikasih kesaya,ambil sayur dua takaran pas ..

Kalau di prasmanan pesta anak muda umum,biasanya ada yang membungkus sayur setelah mengambil sayur dua tiga takaran .." Edo menyambung pengalamannya.

" Lha kamu sendiri, dapat daging banyak banyak buat apa?" tanya si Big.

" Ada dech,yang penting layak dan bergizi..." Jawab Edo seraya membungkus daging lebihan dari teman asrama,dengan sebuah plastik baru yang ada di meja itu.

Lalu Edo makan sedikit dan segera keluar asrama menuju seberangnya.

" Hes.....makan ini" Edo memberikan daging dan uang lima ribu rupiah pada Hesti yang sedang memeluk guitar  miliknya.Ia sedang duduk di depan toko yang bersebelahan dengan masjid dan berhadapan dengan asrama kost.

" Makasih  bang," jawab Hesty seraya menerima uang tadi dan ia berjalan ke depan masjid,untuk  membeli ketupat yang dijual kaki lima 

" Mau?" tanya Hesty saat ia duduk kembali setelah mendapat ketupat dan air teh.

Edo menggeleng lalu mengambil guitar Hesty,lalu memainkannya asal asalan .Hesty makan dengan lahap.

Hesty adalah adik dari teman SMA nya dulu.Namanya Lila .Lila bersekolah di kotanya,ia mengikuti pamannya yang tugas di kota Edo.

Sejak ayah bunda Hesty meninggal ,tidak ada yang mengurus kehidupannya lagi.

Lila juga telah mendahului,sebulan setelah ayah bundanya kecelakaan lalu lintas dan meninggal .

Dan karena Hesty mengetahui bahwa Edo kost di kotanya,setiap habis Dzuhur ia menunggu Edo di samping masjid itu.Hesty tidak pernah meninggalkan shalat.

" Bang,kalau Hesty nggak ada abang,mungkin jadi pemenang kontest pengamen termalang " kata Hesty usai makan

" Hush!!  mana ada pengamen malang?" Edo tidak menerima kalimat Hesty.

" Banyak bang...abang belum tahu saja,"  Hesty menolak pendapat Edo

" Itu kan perasaan mereka saja yang sensitif tanpa wawasan hidup luas.Banyak orang dulu dan orang jaman sekarang yang keadaannya lebih menderita dari pada penderitaan sekedar miskin " jawab Edo.

Ia anak kuliah jadi lebih matang mensikapi sesuatu.

Hesty yang kurang memahami kalimat Edo,tapi ia mencoba memaknai,maka  hanya diam  mempermainkan uang kembalian 

Beberapa saat kemudian  ia mencium tangan Edo sebelum ia mengambil waktunya untuk mengamen dari rumah kerumah dan di taman pinggir jalan kawasan itu 

Sejak tadi sebenarnya si Big mengawasi Edo,tapi ia tidak ingin berbaur dengan Edo dan Hesty,ia menunggu Edo selesai  bicara dengan Hesty,lalu ia bersuit  memanggil Edo untuk masuk kerumah lagi.

" Apaan? tanya Edo penasaran saat si Big menarik tangannya ke dapur yang tidak terlihat siapapun

" Tadi itu si Eka mengawasi kamu yang sedang ngobrol dengan Hesty.Sepertinya ia kurang suka . " Kata si Big melapor tentang pacar Edo yang tadi menonton adegan Edo Hesty.

" Bilang saja,harusnya dia mencoba belajar  menyukai  sesuatu yang tidak ia suka sebelumnya" jawab Edo .

" Lha kalau dia ngambek?" tanya si Big

'  Biar aja....nanti juga baikan " jawab Edo


****                                                                       

Hujan mengguyur begitu besar,semua orang bermotor dan pejalan kaki,segera mencari tempat berteduh.

Ada yang sekedar memakai mantel dan melanjutkan lagi,ada yang sabar menunggu hujan reda 

Beberapa pengamen cilik dengan kecrekan ditangannya,secepatnya mencari depan ruko untuk berteduh.

Di tangan mereka uang hasil ngamen tadi belum di masukkan saku.Tapi,ada sebagian pemilik toko yang menyuruh minggir di toko lain.

Hesty yang bersama  di toko itu sebelum hujan,mengajak mereka berteduh di dalam wariung,mereka makan sedikit supaya tidak diusir.

Maka,uang hasil ngamen tadi lenyap,tapi mereka malah ketawa ketawa saat tahu uangnya habis 

" Lain kali ,kalau mendung ,segera cari toko atau rumah  yang malah memberi cemilan " kata Hesty pada anak anak itu,mereka mengangguk sambil agak kedinginan .

" Apa ada rumah itu ,kak ? " tanya si imut yang sambil ketawa,ia mengira Hesty sedang becanda.

"Tuh. " Hesty menunjukkan asrama kost Edo.Anak anak itu jadi faham

Saat diam menunggu hujan reda,Hesty sebenarnya ingin menangis atas keadaan dirinya.

Tapi ia ingat kalimat Edo.Dan ia menyimpulkan bahwa ,perasaan tidak boleh menghakimi diri dengan mengklaim diri sebagai orang malang.

Sebab banyak keadaan yang lebih parah menerpa orang 

Misalnya,kaum pejuang negeri ini saat perang menghadapi orang asing.

Para beliau hanya makan pucuk daun saat gerilya,dan sewaktu waktu ada lintah menempel di kaki .

Hujan kehujanan panas kepanasan diantara desing peluru..itulah warna hari hari nya.

Juga penderitaan para sahabat Rasulullah di Padang pasir sana,lebih dahsyat dari penderitaannya.

Para beliau bertempur antara hidup dan mati demi membela kalimat Allah dan membela Rasulullah di tengah terpaan badai pasir dan sengatan mentari ..

Hesty merasa bahwa penderitaannya  saat ini yang hanya ingin beroleh makan dan sekedar bersih badan,belum sebanding dengan para Sahid dan pejuang .

Maka ia mengajak anak anak itu menyanyikan sholawat ,hingga hujan berhenti 

Tepat  sejam hujan berhenti ,suasana kembali normal.

Kendaraan lalu lalang dan jika ingin ,mereka singgah di taman pinggir jalan untuk mengendurkan angan pikiran 

Hesty kembali mengamen mencari orang yang baru duduk ditaman,anak anak kecil itu mengamen kepada pemotor dan pengendara mobil yang berhenti di lampu merah .

Tapi ,kedamaian mereka tidak berdurasi lama...

Tiba tiba entah dari mana,hari hari berikutnya datangvsegerombolan anak anak tanggung minta minta dijalan raya,dan kalau sudah punya uang,mereka membeli miras dan mabuk ditaman pinggir jalan,tentu saja orang orang yang biasa datang,makin hari makin berkurang

Hingga suatu sore,Hesty kebingungan mencari lahan untuk mengamen,anak anak pengamen kecil mengikutinya kemanapun ia pergi,..

" Guitarmu bagus,pinjam dong .."  seorang yang berkaos gambar tengkorak dan sudah butut,tiba tiba ingin meraih guitar Hesty 

Hesty mengelak dan berlindung di balik anak anak imut .

" Heh!! Kalau nggak boleh pinjam,biar aku beli !!" bentaknya dan kawan kawannya berdatangan.

Hesty panik,anak anak imut pengamen itu mulai menangis,..

Tetapi,keberuntungan masih berpihak padanya 

Sebab dari arah Masjid,terdengar adzan berkumandang dan para penghuni rumah rumah pinggir jalan itu keluar untuk shalat jamaah.

Ketika ada seorang bapak yang melihat kawanan bandit itu membuly Hesty,ia mengambil batu dan bersiap mengamuk,anak anak itu tunggang langgang 

" Lain kali,kasih tahu orang orang sini kalau anak anak itu datang " kata bapak yang tadi menolong,ia berkata seraya membersihkan tangan dari debu yang menempel di batu.

" Terima kasih pak,Insha Allah kami akan beritahu..." jawab Hesty seraya ia meminta anak anak pengamen itu untuk sholat di masjid .

Mereka beriringan menuju masjid untuk turut berjama'ah 

                                              ****

Siang esok harinya,seperti biasa Edo menukar sayur dengan dagingnya,ia buru buru keluar akan keluar rumah usai makan siang.

Tapi tiba tiba,ada yang menghentikannya.

" Mau kemana ,bang? Ketemu Hesty lagi?" suara Eka yang menegurnya 

Edo berhenti dan berbalik,lalu sedikit tersenyum dan membalas teguran itu " Ya,sebentar.."  katanya .

" Bang,kenapa abang tidak mengingatkan Hesty untuk tidak memilih jadi pengamen? Seharusnya sebagai orang dewasa terdekatnya,abang meluruskan jalan kehidupannya..jangan menjadi serendah itu..." Eka menasihati Edo.

" Soal profesi Hesty,aku baru tahu sejak aku tinggal dirumah ini,mungkin ia sudah bertahun sebelumnya menjadi pengamen untuk menghidupi dirinya yang sebatang kara .

Ia memilih profesi itu karena ia merasa punya bakat musikal.

Realiatis saja laaah...orang pasti cari jalan untuk memuluskan bakatnya agar jadi manfaat besar ." jawab Edo sangat masuk akal 

" Aku setuju pendapat itu bang,aku juga tidak menyalahkan lagi..tapi jika memang saat itu Hesty memang merasa sebagai anak berbakat yang miskin lalu ia mengamen "  Eka sudah memupus rasa anehnya pada Edo dan Hesty.

Saat melepas Edo keluar rumah untuk menemui Hesty  ia sempat berkata pada  " Nanti kita diskusikan lagi Hal Hesty,mungkin aku punya solusi..." 

Edo hanya mengacungkan ibu jari tanda ia haham maksud Eka.

Tapi ketika  kaki Edo baru menyentuh trotoar diluar,Hesty telah berada di depannya bersama anak anak pengamen kecil,.

" Aku baru mau ke taman ,untuk cari kamu ." Kata Edo...                                                                

" Bang,di taman sudah tidak nyaman lagi...sejak dua hari lalu,ada anak anak yang nobgkrong dari pagi sampai pagi lagi...

Mereka minta minta ke orang orang dan pengendara yang di lampu merah. .terus ,mabuk mabuk dan ganggu Hesty.. Maka Hesty mencari  bang Edo untuk masalah ini " kata Hesty.

Edo menggeleng geleng  kepala ,heran atas perilaku orang orang yang tidak menghormati diri sendiri tapi berakibat bagi orang lain 

" Jadi akibat ulah mereka,kalian tersingkir? Baiklah...kalian masuk ke rumah dulu,nanti abang bahas ." Edo mengantar Hesty dan anak anak pengamen itu,sampai ke ruang santai anak anak kost,dan ia membuatkan minum untuk mereka..

Eka menemani Hesty dan anak anak imut itu,sementara Edo sedang menelpon polisi di Polsek yang kantornya diseberang taman.

" Hesty,kalian nanti bekerja seperti biasa.Abang sudah melapor ke polisi,nanti mereka kalau muncul akan diamankan " kata Edo seraya menambah kue kue dipiriing yang setiap diisi,selalu cepat habis.Hesty bersyukur ,ia memegangi tangan anak anak imut itu dan memandanginya seraya tersenyum .

Eka membenahi keadaan meja serta bertanya pada Hesty...

" Adik,bagaimana pendapatan adik kalau ngamen dihari biasa ?" tanya Eka basa basi.

" Hari hari yang tidak ada gangguan maksudnya kak? Yaah,cukup untuk sehari hari ..." jawab Hesty tanpa sungkan .

" Banyak tokoh musik yang asal usulnya pengamen,semoga adik kelak bisa menjadi salah satunya..." Eka berkata lagi.

" Saya tidak punya target itu kak,kakak tahu kenapa saya mengamen ?" tanya Hesty dan kali ini Eka antusias mendengar,sebab memang itu yang ingin ia tahu

" Tentu...coba sedikit cerita asal usulnya" jawab Eka.

Hesty menerawang kembali masa masa sebelum ayah bundanya wafat.Ia menundukkan kepala kearah guitarnya saat akan bicara

" Saya ,di bimbing ayah dan ibu berlatih vokal nada tinggi.

Sedikit demi sedikit saya mengerti tehnik suara itu dan Alhamdulillah saya berhasil mencovet lagu lagu milik lady singer legendaris seperti Bunda Nicky Astria ,Tina Turner ,Whitney Houston.." Hesty berceritera dan berhenti sejenak

" Wow!! keren dong?lanjut ...kenapa bukan pilih jadi artis lokal misalnya .." Eka percaya kalimat Hesty dan ia mendengarkan lagi.

" Ceritanya,...saat ayah bunda dan kak Lila  meninggal,saya sudah terbentur keadaan yang tidak memungkinkan saya memupuk bakat.

Saya miskin di titik terendah ,saya putus sekolah dan semua teman saya sibuk dengan diri masing masing.

Saya kehilangan sosial saya karena saya banyak hutang dan hal itu membuat saya di jauhi tetangga dan teman teman yang sering saya hutang."

Hesty bercucuran air mata,Edo memberiksn tissue...tapi anak anak imut malah makan kue lagi.


" Jadi kamu tidak memiliki peluang untuk bergaul dengan anak band atau entertaintment karena sangat tidak bermodal uang?" tanya Edo

Hesty mengangguk,lalu melanjutkan 

" Disaat saya buntu,saya masih ingat petuah para Ustadz yang kadang bertamu kerumah kami,yakni : sebagian harta orang kaya ,sebagiannya adalah hak orang miskin ...

Nah,saya berfikir demikian, Bahwa tidak mungkin ada orang kaya yang membuat panggung  di muka umum untuk orasi   : hei orang miskin,akulah orang kaya,hartamu ada padaku.." Hesty berhenti bicara karena seisi ruang itu sudah ngakak tergelak gelak.

Hesty tersenyum lebar,lalu ia menyambung lagi 

" Dan saya juga berpikir bahwa , tidak mungkin orang miskin seperti saya ,sengaja mencari  orang orang kaya untuk menagih : hei orang kaya ,hartaku ada pada kalian..." Kali ini ketawa mereka semakin keras

Hesty turut tertawa lalu berhenti tertawa untuk  bicara lagi.

" Maka ,saya memilih cara yang sportif untuk memperoleh hak dari orang kaya ,yakni.. 

Saya menggunakan skill yang layak dibayar untuk memperoleh hak saya yang ditangan orang kaya,dsb jadilah saya pengamen Saya tidak menipu,saya bernyanyi dengan tehnik..."

Eka dan Edo bertepuk tangan meski hatinya terhenyak oleh kebesaran jiwa Hesty.

Mereka tidak menyangka bahwa Hesty begitu kuat  berpijak di jalur yang benar dengan syariat yang benar, " Allahu Akbar." Bisik dalam hati Edo dan Eka.

Eka pelahan lahan agak maju menatap wajah Hesty,lalu dengan halus ia berbicara

" Adik,jika memang bisa mengcover lagu papan atas,kakak akan undang untuk event kampus..

Dan jika memang kwalitasnya standart singer,honornya nggak kalah dengan artis top yang biasa kamu undang " 

Hesty berbinar binar,ia sangat menantikan kesempatan itu..

" Hesty...kami bukan mengundang karena kami iba dan ingin menyalurkan bantuan dengan cara itu,tapi kami yang perlu dikasihani. .kami butuh tampilan seseorang yang spektakuler,sehingga branding event kami terjaga " kata Eka meluruskan..

Hesty semakin percaya diri atas kalimat itu .Dan ia segera menuruti Eka untuk menyanyikan sebuah lagu mellow Whitney Houston,I Will Always Love You..

Lagu berikut ,ia menyanyikan lagu Mata Laki Laki,Nicky Astria..

Hal itu cukup menunjukkan kemampuannya.Sebab ,ia bernyanyi tanpa celana.

Edo berbicara pada Eka mengomentari niatannya

" Hesty ,luar biasa...Dan gagasanmu mengundang Hesty di even kita,memang akurat dan lurus..

Sebab ,jika ada  yang mengekspos seseorang artis ,tetapi motivasi latarnya adalah iba dan dorongan kemanusiaan.Misal,karena iba,ia mempopulerkan secara ugal ugalan padahal kwalitasnya dibawah standart

Mereka tidak sadar ,bahwa hal itu malah penghianatan pada dunia seni.Sebab unggahan dunia seni adalah kwalitas personal dan materi seninya.."

Eka sangat senang sebab ia tidak dianggap ngawur,dan ia memberi tanggapan atas kalimat Edo barusan.

" Ya,aku setuju dengan cara pandang itu ." Eka menutup pembicaraan hari itu,dan Hesty berikut pasukan imutnya ,pamit untuk bekerja profesi mereka

                                                       ****

Anak anak imut sedang mengamen di lampu merah,tetapi sedikit yang memberi perhatian . 

Tiba tiba ,ada sebuah tas yang jatuh dari sepeda motor,dan pengendara berboncengan itu tidak tahu .

Sebab mereka tadi baru tiba di perempatan dan berhenti karena lampu merah,tapi tiba tiba lampu lalu lintas itu  hijau lagi ,merekapun tancap gas.

Seorang anak memungut tas bagus itu  dan mereka mengantar kepada Hesty yang sedang bernyanyi.

Hesty menerima uang dari orang orang itu,dan ia mendekati anak anak 

Sebenarnya, orang orang yang memberi uang tadi,masih terus mengawasi Hesty hingga ia menerima tas dari para pengamen cilik.

" Tas jatuh ,kak...yang punya jalan aja.." kata si Imut .

" Kekantor polisi saja,kan dekat lampu merah.Kakak tidak berani membuka,walaupun untuk tahu lihat mungkin ada KTP pemilik " jawab Hesty .

" Coba bawa kesini," orang yang sedang duduk itu meminta Hesty membawa tas itu padanya.

Hesty agak ragu,tapi setelah melihat potongan rambutnya,ia mulai percaya.

" Saya baru dua hari tugas di Polsek itu,jadi kalian belum pernah melihat kami,kebetulan baru saja kami mendapat perintah untuk mengawasi lokasi ini " orang itu memperkenalkan diri seraya membuka tas itu 

Hesty dan pengamen pengamen cilik,ingat bahwa bang Edo melapor polisi gara gara anak berandalan .

Maka mereka segera duduk di lantai  trotoar seperti orang menghadap raja.

" Berdiri saja,ini saya sudah tahu pemiliknya . Dan isinya memang sangat berharga" orang itu menunjukkan uang banyak di dalam tas,juga kalung dan cincin perhiasan emas besar.

" Apakah pemilik tas itu adalah pedagang besar ya pak polisi ?" tanya Hesty.

" Betul sekali,nah ,jika orang itu menanyakan penemunya ,kalian bapak undang ke kantor " kata polisi itu.

Hesty dan pengamen pengamen kecil itu kembali mencari nafkahnya,sementara polisi itu masuk ke kantor Polsek dengan di iringi tatap mata pengamen pengamen kecil.

                                                        

 ****

Edo membaca postingan di IG dan di Face Book,ia sangat terkejut sebab ia melihat wajah Hesty dan anak anak pengamen sedang menerima hadiah dari sepasang suami isteri.

Mereka di beritakan sebagai pengamen yang jujur sehingga lokasi kota ini menjadi sangat membuat rasa aman nyaman  di hati para pengunjung taman .

Hesty mendapat pujian luar biasa ..

Edo sangat bangga dengan Hesty dan teman temannya,walaupun hidup serba sulit ,tetapi mereka tetap tawakal dan tidak menciderai akhlaknya.

Edo sadar,bahwa ia yang merasa telah memperhatikan Hesty seperti seorang kakak yang selalu mengawasi adiknya.Hanya sayang,Edo hidup dari uang orang tuanya,sehingga ia tidak dapat membantu Hesty maksimal .

Tapi ia puas,setidaknya ia telah membuat Hesty menjadi memiliki tempat berbicara dari hati kehati,dan merasa terlindungi .


Sore itu,Edo sedang berjalan kaki pulang dari kampusnya,sebab kampusnya hanya di seberang jalan agak ke ujung simpang empat .Di jalan itu ia memperhatikan keadaan di tepai taman yang memang ada di jalan itu. 

Ia melihat Hesty sedang dikerumuni pengamen pengamen kecil ,dan masing masing di beri amplop oleh Hesty,agak tebal.Lalu,para pengamen kecil itu terlihat sangat senang dan haru memeluk Hesty satu persatu.

Tentu ada yang luar biasa ,pikir Edo.Dan ia mendekati Hesty.Tapi sebelum Edo sampai ketempat itu ,Hesty sudah berlari menyalami dengan takzim

" Pulangnya agak sore ,bang?" tanya Hesty yang tahu biasanya pulang malam.Usai kuliwh,memang Edo sekarang telah  bekerja di sebuah kafe,jadi asisten barista.

" Iya,kafe libur..." jawab Edo.

" Ada berita bagus ,bang.Hesty akan keluar kota agak lama.Masalahnya ,tadi ada keluarga duduk duduk di sini,aku ngamen kepada mereka ..eh,mereka ingin aku nyanyi lagi.Sanpai enam lagu ." Hesty bercerita ekspresinya serius...

" Apa hubungannya dengan rencana kamu keluar kota ?" tanya Edo.

" Nah,Iya itu hubungannya..Tadi ,,mereka test Hesty nyanyi lagu lagu yang tiga oktav lebih,dan aku bisa ..' jawab Hesty semangat banget.

" Lalu ,mereka beri kamu kerjaan. .? Jawab Edo Menebak 

' Betuuuul. .dan aku tadi di beri uang jumlahnya satu amplop kabinet,ini lagi saya bagi bagi sama anak anak...bang Edo yang ini.."  Hesty menyerahkan uang sebanyak satu juta rupiah pada Edo yang tentu saja bengong 

" Hah!Banyak niaaan??? Kamu beri satu juta tiap anak itu??" Edo tidak menyangka uang Hesty sebanyak itu .

" Iya bang,uang itu bisa dipakai orang tua mereka untuk dagang kopi,biar hidup mereka lebih baik . " Jawab Hesty menunjukkan belas ikhlasnya

" Ya itu,aku percaya niat kamu mulia .tapi,tentu yang beri kamu uang sejumlah besar banget itu ,tentu dari media besar ...Syukurlah,Hesty ..kamu sudah menemukan mataharimu..." Edo menyalami dan memberikan uang itu pada Hesty lagi.

" Kenapa bang?haram?? " Tanya Hesty agak kecewa..

" Simpan dulu,nanti kalau Hesty ke Jakarta untuk memenuhi job itu,gunakan untuk transport pengawalmu..."   Edo menjawab mohon pengertian

" Tentu Hesty minta bang Edo yang antar ."  Jawab Hesty yakin.

" Hesty,bang Edo tentu mau ..nah,kamu latihan yang tekun,kabari abang kalau siap ." Edo menutup pembicaraan itu,Hesty melepas Edo pulang dengan kebahagian yang baru 

                                                       

****                                                       

Hesty,dari seorang yang berbakat tetapi terpaksa hidup di bawah garis kemiskinan karena sebatang kara,hari harinya seperti bunga di belantara.Hanya keberuntungan  turun hujan yang akan menyiangi sehingga segar.Tiba tiba saja ,sekarang sudah menjadi seseorang yang berarti.

Beberapa waktu lalu,ia menatap alam ini seperti belantara yang tak dapat sapa menyapa.Tapi hari ini saat embun memudar dan cahaya di timur merekah,bibir di relung hatinya merasa layak menyalami sang bagaskara : Selamat pagi mentari...

                                                                          SELESAI





BIONARASI


Cerpen ini adalah sebuah gagasan atas sesuatu yang selama ini yg tidak terjadi 

Gabriele Richard ( Sujoko ) Menuangkan dalam kisah sederhana.

Oh ya,Gabriele Richard lahir di kota Purbalingga,tanggal 15 Mei 1966.Beragama Islam dan memiliki akun medsos : IG @Gabriele Richard ,FB Gabriele Richard,WA 082134506127








Tidak ada komentar:

Posting Komentar