PESERTA LOMBA CIPTA CERPEN DAN PUISI ISLAMI ( Thema : Aku Dan Sejuta Impianku )
Hati dan perasaan ini baru saja tremor,aku kecewa pada seseorang yang sebelumnya kuanggap sebagai peri di bumi yang akan menendang segala keresahan hidupku kelak.Tapi aku hanya boleh berangan angan saja .
Dari hati terdalam ,aku sungguh sangat berharap ia yang akan menjadi isteri pendampingku selagi Allah SWT memberi umur ,tapi ia bahkan tidak pernah menyebut namaku dan menanyakan keberadaanku .
Ia vokalis band yang kubentuk , Ia yang memiliki suara 3 1/2 oktav dan mampu bernyanyi berbagai genre .
Dimataku,ia yang terbaik.Dan memang dia yang memiliki segalanya yang membuat dia sangat patut untuk dicinta olehku yang patut juga sangat mencintainya.
Saat aku berlatih bersama,aku merasa sangat menjadi bagian dari dirinya,sepertinya kami sebagai sepasang yang tidak terpisahkan..
Tapi,kehendak jiwa pribadi kami masing masing ,sangat berbeda.Jiwaku memikirkan,mengharap dan mencinta,tetapi dia tidak...Hanya kedewasaannya saja yang membuat suasana seperti tidak ada perbedaan
Dan aku yang sudah memimpikan hidup bersamanya dan melangkah bersama sebagai bintang diatas bintang bintang,ternyata harus terbangun sebelum tidur . Sebab dia akan segera dipersunting orang yang memiliki segalanya yang membuatnya pantas dicintanya.
Guncangan batin itu,membuat aku enggan memijak tanah kelahiranku,dan aku ingin secepatnya pergi sejauhnya untuk menghancurkan nestapaku.
Dan akupun beranjak ke ibukota,yang kukira dapat menjadi sandaran hidup yang merangkul skill musik yang kumiliki. Mungkin itu dapat menyumbang aku mempertahankan hidup selagi patah hati
* * * *
Tak terasa waktu beranjak cepat..
Saat itu aku sedang berdiri ditepian kali Ciliwung,di kampung Melayu,aku mengeluh dalam hati..
Kemarin,aku yang miskin,bermimpi bersanding dengan akademisi yang pro karier..
Sekarang di Jakarta,aku yang miskin sedang bermimpi menjadi boss bagi rekan rekan musik dimana saja..
Mungkin aku juga seperti kebanyakan pria perantau di Jakarta ini,yaitu ingin menjadi yang punya arti sehingga bahkan akan menjadi impian orang orang cantik...
Tapi apakah harus diawali dengan kehabisan ongkos kendaraan hingga berjalan kaki dari Pasar Baru ke Cililtan,dimana aku menginap dirumah mantan pelatihku?
Ach,tak masalah....aku yakin harapanku akan menuai hasilnya jika aku tekun berlatih bersama bekas pelatihku yang sekarang berada di Jakarta juga,sebab ia punya banyak relasi penyalur bakat.
Tapi saat itu, ada yang kulupakan,dan bahkan aku belum tahu bahwa sebaik baik tujuan adalah mengejar akhirat.. sehingga,saat itu aku menjadi pemimpi yang bodoh,yang tidak pernah meminta dan menghadap pemilik segala impianku.
Aku lebih suka hanya menonton orang sholat seraya berangan angan menjadi muslim yang tawakal,padahal aku sudah muslim ,tapi kurang taat .
* * * *
Waktu merambat kembali ..
Suatu hari,ada seorang yang melihat bakatku dah membutuhkan aku sebagai musisi pengiring di panggung tujuh belasan,
Beliau juga yang memintaku bekerja di studio musik miliknya ,beliau juga punya group band yang personilnya lengkap
Tentu rejeki itu kuterima..
Dan aku kemudian bekerja sebagai tehnisi sound merangkap pemain pengganti jika anggauta band di group sedang halangan.
Tapi,gajinya hanya cukup untuk membeli rokok dan kopi saja. Hidupku masih jauh dari kata sederhana sekalipun.
Di Minggu kedua aku bekerja,studio itu baru saja membeli satu set drum dari seorang yang saat itu lebih suka duduk dilantai studio ,daripada di sofa
Maka ,aku juga duduk di sebelahnya menjadi teman ngobrol,selagi boss mengambil uang di bank. Kami bersama beberapa orang yang menemani penjual drum,membentuk setengah lingkaran di lantai ruang tengah rumah boss aku.
Saat itu menjelang waktu sholat Ashar Moment yang ditunggu tiba, sejumlah banyak uang pecahan dua puluh ribuan diterima oleh penjual ,aku merasa lega.
Sebab kufikir,ia sedang perlu uang untuk hal mendesak sehingga rela menjual drum .Walaupun,aku juga ingin sekali memiliki uang sebanyak itu
Ternyata,apa yang kusangkakan itu meleset ..
" Mau? " Tanya penjual drum itu padaku ,seraya mengulurkan seluruh uangnya,ia becanda
Aku tersenyum,tapi memang memberikan uang jumlah banyak ,hanya saja ia punya maksud
" Tolong belikan bir satu karton,sisanya buat kamu "
Aku terkejut,tapi kuturuti maunya. Aku keluar rumah dan memesan bier itu di toko dekat rumah boss aku
Bir yang dipesan segera datang ,dan mereka berpesta minuman seraya ngobrol kesana kemari
Aku pun berbaur dalam pesta itu hingga setengah mabuk.
Aku tidak juga sholat Ashar,bahkan ketika mereka pulang,aku masih ke toko untuk membeli bir , uangnya hasil dari tips kecil sang penjual drum.
Lalu aku minum lagi hingga larut malam
Malam malam berikut menjelang tidur aku masih sempat merenung hari hari yang lewat,aku membenarkan sebuah filsafat umum,yakni : Manusia memang terbentuk dari lingkungan dan pendidiknya. Aku yang semula normal tidak bergantung pada bier,tiba tiba saja telah berubah sebaliknya.
Sebab pertma,aku seperti diajari cara hidup orang orang kaya itu yang memperlihatkan budaya minumnya kalau baru saja memperoleh uang.
Sebab kedua,aku ingin menghilangkan kelelahan jiwa atas banyak hal dalam perjalanan hidupku yang melelahkan perasaan dan memedihkan hati. Sehingga ,dengan mudah aku tertular tradisi kehidupan metropolitan yang bagiku adalah baru,yakni melepas problema dengan minuman keras.
Tapi saat itu aku masih percaya bahwa akan datang masa yang berbeda dengan kekelaman hidupku .Insha Allah.
Dan,mungkin Allah Swt sudah mengijinkan kebaikan datang padaku Aku sendiri yang memperoleh kontrak kerja home band selama empat bulan, di sebuah Coffer House.Lokasi berad di daerah Roxi.
Manajemen disana lebih memilih aku yang memimpin band,daripada bossku di studio
" Kenapa kamu memilih masa kontrak hanya empat bulan?Bukan setahun atau dua tahun" tanya direktur Coffee House itu.
" Maaf pak,memang budget lumayan tinggi ,tapi kami menjaga kepentingan bapak juga..Siapa tahun,band kami ada perombakan anggauta yang mungkin personil barunya tidak sesuai harapan,kami tidak memperpanjang masalah disini " Jawabku masuk di nalarnya
Kontrak berjalan lancar,tapi waktukupun habis hanya untuk menenggak bier dari pagi ke pagi lagi.Aku syukuran dengan caraku karena bisa punya uang sah yang banyak setiap bulannya
Tetapi,mungkin karena setiap kali aku datang untuk bekerja ,sudah penuh alkohol dari minuman yang kuminum sejak siang,aku kurang memperhatikan dan tanggap situasi sebenarnya di Coffee house itu.
Hingga suatu hari aku dalam keadaan bersih alkohol,datang untuk bekerja di tempat itu,aku sangat syok mendapati realita hidup di metropolitan
Aku melihat beberapa wanita berdandan menor,baru keluar masuk warung nasi kaki lima yang menempel di tembok gedung sebelah
Sebagian,ada yang membayar kontan.Beberapa orang hanya dicatat di buku hutang oleh pemilik warung .
Dan ada juga yang sedang dimaki maki karena sudah seminggu ,makanan belum dibayar dan ingin hutang lagi..
Astaghfirullah Al 'adziim... Ternyata demikian nasib para urban yang harus banting tulang dikota besar dengan berbagai pilihan pekerjaan yang halal dan haram.
Para wanita itu sungguh tidak punya simpanan uang jika sore hari,tetapi saat tetamu pelanggan Coffee house datang,mereka berebut melayani dengan membiarkan tubuh diperlakukan apa saja demi uang
Sebenarnya,ada genangan air mataku yang belum menetes,saat itu ....saat aku melihat wanita wanita di negeriku hidup tanpa perhatian dan tali asih sehingga mereka harus menjadi pemuas nafsu orang orang khilaf..Astaghfirullah Al 'adziim .
Di bulan kedua dari kontrak musik,uang gajiku utuh,sebab untuk memperoleh bier,aku cukup menyanyikan lagu yang dipesan pengunjung coffer house.
Dan kadang kusisipkan rejeki untuk orang yang kukenal,untuk meringankan sedikit beban mereka membayar angkutan umum pulang perginya .
Semua kuperlakukan seperti saudara,kadang saat becanda dengan mereka, kujanjikan hari esok yang tanpa hal biadab itu ,kelak jika Allah SWT memberikan pemimpin yang tepat
Sahabatku semakin bertambah,bahkan suami dari sekretaris coffee house itu,juga mengunjungi aku dan ia memberitahu hal hal Islami serta kekuatan sejatinya
Ia mau mendekati aku setelah memahami isi hatiku saat sering terlihat berbagi dengan sesama pekerja disitu.Aku selalu memberi uang dan menyuguh bir,ia menerima
Memang ia juga menganggur dan agak berpenampilan gangster. Di suatu kesempatan , ia memberiku nama dan alamat guru spiritualnya di Rangkas Bitung.
Aku tertarik dan ,menanti kesempatan untuk berkunjung. Aku masih menati waktu yang tepat
Di bulan terakhir kontrak musik yang diterima,suami sekretaris itu berkunjung ke tempatku bekerja,malam hari ia datang.
Namanya Aji ,Kufikir ia ingin di traktir bir dan di beri uang saku . Ternyata ..ia datang hanya bertanya padaku ,sebelumnya ia membuka dengan gaya diplomasinya
" Bicara saja,aku nggak akan marah" jawabku
" Sungguh??Nanti kalau abang marah,boleh panggil security untuk mengusir dan mukul saya.." dia lebih serius ekspresinya daripada tadi Aku tersenyum pahit lagi,dan mengisyaratkan agar dia bicara
" Mohon maaf nih bang,apa kalau abang sedang minum minum dan main musik disini,abang sama sekali tidak ingat Allah SWT?"
Pertanyaannya,kufikir hanya bass basi saja,tapi hatiku cukup tergetar dan ada rasa takut terhadap sesuatu yamg belum terjadi Aku tidak menjawab,dan masih minum bir seraya menuangkan untuknya
" Kalau abang sudah agak konsentrasi,boleh main kerumah saya Nanti saya akan tunjukan sesuatu yang mungkin abang perlu " Sebelum pulang ia masih sempat bicara itu
* * * *
Sejak aku menyadari ironi kehidupan malam di Coffee house,hari demi hari fikiranku berputar mencari cara menghentikan Dan sekaligus aku mencurigai para pihak yang membuka usaha seperti itu .
Bagi opini umum dan sipil,hal keberadaan dunia malam itu, mungkin suatu hal biasa,tetapi bagi insting perjuangan milter dan Fisabilillah Islam,tentu hal yang mengundang sejuta tanya. Misal,bagaimana mungkin pemerintah negeri berTuhan mengijinkan praktik prostitusi itu?
Dan,setahuku ..hal hal yang menyelenggarakan maksiat berat,hanyalah bahaya laten kiri.Sehingga aku ingin membuktikan bahwa coffe house itu adalah milik aktifis kiri
Kebetulan,aku menemukan surat kabar "Pravda"dimeja manajer,
Hal itu saat aku dipanggil untuk mengambil uang bulanan. Maka aku semakin yakin bahwa coffe house tempatku bekerja adalah sarang laten.
Tanpa pikir panjang,aku memberitahu polisi,melalui seorang bar girl yang kusuruh menggunakan telpon perusahaan untuk menghubungi.
Dan aku menceritakan penemuanku itu kepada seorang perwira polisi di Polda Metro Jaya,yang juga memiliki usaha sampingan penyewaan alat band.
Oleh sebab sikap tanggap darurat situasi,Coffee House ditutup Pemerintah DKI.Aku tidak merasa panik atau merasa terdzalimi,bahkan rasanya agak ringan beban di mental ini Waktu kosong itu kupergunakan untuk bertandang kerumah Aji
Ketika aku masuk kedalam ruangannya,aku agak panik sebab ,selain penuh perangkat sholat,juga kitab kitab suci Al Qur'an berbagai ukuran ada di mana mana.
Aji menyambutku seraya memahami ketakutanku yang terdalam Ia pamit ingin belanja kopi setelah mempersilahkan aku masuk seraya mempersilahkan aku membaca kitab kitab koleksinya.
Semula aku merasa sangat nervouse dan bingung apa yang harus kulakukan ketika banyak fasilitas ibadah terpajang seperti tidak ingin di sia siakan.
Tiba tiba akhlak sejatiku bekerja,aku segera mengambil air wudhu dan sholat Isya pertama kali sejak bertahun tahun lampau sudah kutinggalkan.
Usai sholat,aku membaca baca kitab hadits dan berbagai riwayat Islami. Tapi aku merasa belum genap suasana hatiku. Sepertinya,aku merasa menemui jalan buntu di dunia dan akhirat kelak oleh keadaan dosaku
Satu jam kemudian,aku menemukan sebuah hadits Nabi Muhammad SAW demikian : "Setiap orang yang berbuat dosa, lalu ia kemudian bergegas melakukan wudhu dan mengerjakan sholat, lalu memohon ampun kepada Allah, niscaya Allah beri ampunan kepadanya.." (HR Abu Dawud . An-Nasa'i, Ibnu Majah dan Al Baihaqi)
Alhamdulillahirobbil 'alamiin..
Sungguh,berita akhirat demikian yang aku cari,sebab setiap menit aku ingin beribadah rutin,tapi aku merasa dosaku di waktu waktu lampau belum bersih.Aku takut ibadahku ditolak. Tanpa buang waktu ,aku segera berwudhu lagi dan melakukan sholat taubat Nasuha.Berharap untuk aku dapat tenang menapaki hari hari yang lurus.
Baru saja aku salam di tahyat akhir,pintu di buka paksa oleh seseorang kekar,ia memaksaku untuk mengikutinya membonceng motor Aku menurut tetapi masih bertanya tanya akan bagaiman nasibku nanti
Di perjalanan,aku sadar bahwa aku sedang diculik . Dan disebuah lampu merah ,aku melompat dari sepeda motor yang kubonceng.Aku menerobos hiruk pikuk kendaraan dan masuk ke gang gang sempit untuk menghindari pengejaran.
Rupanya ,penculik itu diundang oleh tetangga Ajie yang mengenali aku dan ia tinggal diseberang rumah itu. Ia mengundang bodyguard mucikari untuk menyergap aku yang ,terus terang...memang sering membuat masalah dengan para calo calo wanita malam di Coffee House. Ditambah,mereka mungkin tahu bahwa aku yang berusaha menutup coffehouse . Kurang ajaaaar tetangga Aji,ia kukenali sebagai orang yang sering datang ke Coffee house bersama mucikari mucikari !!!
* * * *
Memang aku sebatang kara di Jakarta...aku kost di daerah kota,. Sejak aku datang ,hanya memiliki beberapa potong pakaian . Maka,ketika aku melarikan diri dari penculik,aku tidak ingin kembali ke rumah kost,semuanya kurelakan.
Aku mencari bus kearah Rangkas Bitung, Aku masih ingat nama dan kampung guru spiritualnya Aji, Kampung Aweh.
Setelah tanpa melewati hal hal berat,aku sampai di rumah pak Ustadz itu.
" Anak ini jauh jauh ke kampung Aweh,hanya untuk mencari ilmu kekuatan fisik?" Tanya ustadz itu ,yang sesungguhnya adalah pegawai Puskesmas.
" Betul pak Ustadz,saya ingin leluasa menyelidiki dunia malam ,maksudnya ,supaya bisa melawan gangguan dan halangannya" Jawabku.
" Tunggu sebentar,bapak akan mengundang tetangga untuk turut mendoakan mu" pak Ustadz berbicara seraya berjalan kearah pintu keluar.
Aneh,beliau tidak kemana mana,hanya berbicara bisik bisik menghadap kiblat saja,tiba tiba terus terus Kampung Aweh sudah berada di depan pintu.
Aku disuruh tidur ditengah tikar,dan paractetua duduk mengelilingi aku.Para beliau melantunkan Al Qur'an serentak.
Aku tidak merasakan hal aneh,tapi aku merasakan ketulusan hati para tetua itu mendoakan aku.
Aku diberi makanan khusus oleh pak ustadz,ketika usai ritual itu semua dijamin makan malam. Makanan itu menyerupai buah kecil ,rasanya tawar.
" Insha Allah,dengan izin Allah,anak akan kebal dari segala racun setelah memakan yang bapak berikan tadi " Kata pak Ustadz,dan aku berlutut saking berterima kasihnya.
" Bapak,apa yang saya terima dari keluarga kampung Aweh ini,sangatlah penting artinya .Insha Allah akan berguna suatu saat di perjalanan cita cita saya,mohon ijin untuk pulang ke kampung halaman saya. Saya ingin meminta restu ibu yang harus saya minta ampun atas kehidupan saya . Saya juga ingin memperkuat kemampuan saya agar lebih mempermudah perjuangan saya .."
* * * *
Aku sudah kembali kekampungku,dan mula mula yang kulakukan adalah mencuci kaki ibuku seraya meminum air cuciannya. Aku sangat menyesal telah pernah salah jalan di dunia malam Dan aku mohon ibuku memaafkan.Beliau sangat bergembira melihat kesungguhan ku bertaubat
Dikampung,aku kesulitan uang,kehilangan teman ,sebab aku menjauh dari kerumunan yang biasanya berteman miras Untuk menebus sholat ku yang bertahun kutinggalkan,setiap hari aku mengepel dan mengisi bak wudhu di mushola mushola yang sengaja kudatangi karena tidak punya pengurus kebersihan
Disaat aku beristirahat dari kerja relawanku.. Aku berbaring seraya menertawakan segala impian dan keinginan lampau,sebelum aku bertemu pak ustadz di Rangkas Bitung .
Dahulu aku hanya menginginkan dan mencari hal semu yang tidak akan bermanfaat apa apa . Beruntung,aku telah di luruskan jalannya,sehingga aku lebih memimpikan dan mendambakan akhirat yang selamat...Akhirat yang bahagia seperti yang pasti akan diterima oleh para Rasul dan para Nabi
Memang,sholatku menjadi genap lima waktu ,ditambah sholat Sunnah keseluruhan waktu.Bahkan menjadi relawan kebersihan di mushola mushola,tapi aku merasa menjadi aku yang belum memiliki janji dari Allah akan keselamatan akhirat bagiku.
Aku belum menemukan rumus rumus cara untuk menjadi orang salih yang bijak,sehingga berguna untuk mencerahkan orang lain. Tapi aku sudah menemukan kekhusyuan ku dalam niat,dan dalam tindak ibadah kepada Allah SWT.
Mungkin hanya itulah hartaku satu satunya yang dapat ditebus dengan keselamatan akhirat Mungkin kekhusyuan itu juga yang akan menjadi perisai saat aku kembali ke Jakarta untuk mengabarkan jalan Allah SWT di dunia malam .Supaya golongan itu menjadi bersaudara dan berhimpun merubah nasibnya menjadi petani,peternak atau home industri untuk nafkah yang lebih mulia
Semoga tetaplah janji Allah SWT ذَٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ ۖ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ مَآبًا Itulah hari yang hak (pasti terjadi). Siapa yang menghendaki (keselamatan) niscaya menempuh jalan kembali kepada Tuhannya (dengan beramal saleh).(QS 79 An - Naba : 39 )
Aamiin
TAMAT
BIODATA PENULIS:
NAMA : Gabriele Richard ( Sujoko )
TEMPAT TANGHGAL LAHIR : Purbalingga 15 Mei 1966
ALAMAT : Jalan Letnan Soeparto no 14 Purbalingga 53313


Tidak ada komentar:
Posting Komentar