Jumat, 22 Maret 2024

MATA ANGIN - Cerpen Karya Gabriele Richard & The Holy Spirit

 Peserta Lomba Cerpen & Puisi Tingkat Nasional.                                                                                    Thema : RASA INI TAK PERNAH BERUBAH                                                                                            

 


 " Bang,galon air kosong,"  Betty melapor pada Sandy  seraya  menunjukan gelas kosong tanda batal mengambil air.

" Di kamarku masih ada " Sandy menjawab tanpa menoleh,ia sibuk dengan kalkulator dan laptopnya 

Betty melangkah masuk kamar Sandy,tiba tiba ia melihat sebuah benda yang sangat ia kenal ,dan bahkan benda itu adalah pilar sejuta impiannya .Ia telah melihat sebuah guitar akustik buatan Gernan, masih mengkilap.Iaterburu buru saaat mengisi gelasnya,kemudian setengah berlari kearah Sandy


" Abang ketemu bunda  dimana?" tanya Betty agak keras

" Di stasiun kereta ,ia baru sanpai dari Yogya malam tadi.Aku diminta menjemput " jawab abangnya

" Terus,bunda kemana  ? " Betty bertanya lagi

" Ke Jakarta,ia harus meeting untuk rencana pembuatan workshop,maka gitarnya kusimpan disini .HP  nya ketinggalan “ jawab Sandy 

" Kalau bunda  pulang kesini, itu sich,memeang aku tunggu banget " Betty berkata selagi rasanya penuh harapan   .  

Betty tidak pernah menelpon bundanya, sebab ia takut akan mengacaukan situasi bundanya yang selalu berkutat dengan notasi dan guitarnya. Selain perform di event penting,ia juga mengajar online, sehingga iapun sangat jarang menelpon Betty.e

Betty kembali ke kamarnya,iapun membuka laci mejanya, ia mengambil sebuah stofmap berisi partitur musik klasik . Lalu ia ingat memainkan not not balk yang tertulis  di  partitur dengan sebuah piano disudut kamar ,untuk bundanya jika bertemu nanti.                                                                                                         

Saat Betty memainkan piano ,ia agak sering terpeleset jarinya,tapi soul di mainannya masih kuat .Ekspresinya,seolah olah ia sedang bermain untuk sosok yang paling ia hargai selain keluarganya.Tapi,saat saat tertentu menyeruak rasa sedih mendalam mengingat nasib kedua orang tuanya 

Bundanya adalah seorang master  guitarist klasik ,ia bercerai dengan ayahnya beberapa tahun lalu,ia mengikuti suami barunya di Yogya ,tapi Betty bersama Sandy tetap mengikuti ayah  dirumah ini. Hanya sayangnya,ayah Betty meninggal dunia setahun lalu .Maka Betty dan Sandy hidup tanpa ayah ibu,bahkan masih harus merawat eyang puteri mereka. Beruntung,saat ini Sandy sudah bisa mandiri sebagai pengusaha kafe dan niaga online 

" Betty,eyang putri perlu mandi,siapkan air hangat " Sandy tiba tiba berseru dari luar,dan piano Betty,mendadak juga  berhenti bunyi .

Betty merebus air untuk mandi eyang putri,dan ia menunggu mendidih seraya masih mengingat ingat notasi lagu yang tadi belum selesai. Selang waktu beberapa menit,eyang puterinya sudah masuk kamar mandi , dan air hangat sudah siap oleh Betty.

" Ingatkan abangmu,kita harus sholat Maghrib sebentar lagi " eyang puteri mengatakan itu saat ia sudah selesai mandi dan berganti baju.

" Shandy sudah keluar .Ia bilang harus temui stafnya.Kita berdua saja ,eyang " Betty menjawab seraya menyeduh teh

" Ibumu,sepertinya Minggu ini harus sudah sampai kesini, apa Shandy tidak menyebut kapan ia mau jemput? " tanya eyang puteri

" Ibu tadi malam hanya mampir sebentar di kafe,mungkin lusa bisa kerumah ini " jawab Betty

" Kamu ingat Koko?,anak laki laki pak Isnan,sopir ayahmu ..Koko dulu yang antar jemput kamu sekolah di taman kanak kanak" entah sebab apa tiba tiba ada tanya eyang puteri demikian. Betty mengingat ingat,sepertinya ia memang sangat dekat dengan yang disebut eyangnya. Seorang pria kecil,masih SD kelas empat,ia ikut membantu ayahnya bekerja di rumah ini . Mas Koko, demikian Betty menyebut semasa ia kanak kanak.


" Ingat eyang,mas Koko yang jaga saya di depan pintu kelas,ia takut kalau saya ngangis ditinggal jauh...iya,eyang...saya ingat sekali " Betty menjawab dengan sedikit kecerahan yang datang  begitu saja.

" Koko menelpon dari Papua,ia menanyakan kamu ..sekarang ia sebagai insinyur pertanian yang dipekerjakan di sana oleh pak menteri" eyang puteri menjelaskan.

Betty menebak,mungkin mas Koko ingin menelpon dia tapi tidak tahu nomor ponselnya,sehingga ia menelpon rumah dan eyang puterinya yang menjawab. Tapi ketika  Betty akan bertanya lainnya,bel pintu rumahnya berbunyi , Betty keluar untuk merespon Sosok tinggi besar dan tampan sudah berdiri di depan pintu yang baru saja dibuka Betty

" Mbak Betty? " tanya pria itu

" Betul,mas Koko?" Betty berhasil menebak siapa pria itu saat ia mengamati yang baru datang . Pria itu menyalami dan Betty membawanya keruang dalam ,menjumpai eyang puterinya.

" Kabar pak Isnan bagaimana,nak?" Tanya eyang puteri saat Koko dan Betty sudah duduk dihadapannya 

" Bapak sudah almarhum,tahun lalu di Papua ,eyang.Ibu sudah mendahului setengah tahun sebelumnya " jawab Koko terlihat agak prihatin. Eyang puteri berlinang air mata,dan Betty juga larut dalam kesedihan itu 

" Maaf,kami tidak menghubungi eyang puteri,sebab selain tempat kami jauh,saya juga tidak tahu nomer telpon disini,yang tahu ayah..." Koko memohon dimaklumi. Mereka berbincang hingga waktu sholat Maghrib,dan Koko bertindak sebagai imamnya..

                                                               ****                                                                                       Betty sedang berlatih duet instrumentalia bareng bundanya .Shandy seperti biasa,sibuk dengan kalkulator dan laptopnya . Sementara ,eyang puteri membaca ayat ayat suci Al Qur'an di samping kursi Shandy,tapi.Koko duduk dilantai depan pintu kamar Betty , mengawasi yang sedang berlatih .Sore itu ia datang lagi di rumah Betty tanpa membawa keluarganya,seperti kemarin.


Sesekali,Betty yang sedang berlatih memandang Koko seperti masih takut jika Koko akan pergi meninggalkannya . Bundanya tidak memperhatikan hal itu 

Koko,sekali sekali ikut bergumam syair lagu yang seharusnya dinyanyikan oleh singer   Tapi karena memang Betty dan bundanya memainkan Instrumentalia,hanya notasi saja yang menyepadankan bunyi guitar dan piano dengan lagu yang sedang dimainkan itu .

Betty dan Koko ,sama sama merasakan suasana yang tidak berubah seperti ketika Betty masih di taman kanak kanak,saat Koko duduk dilantai depan pintu,sesekali ikut bernyanyi lirih saat Betty dan sekelas bernyanyi di pandu sang guru .

Ketika latihan keduanya usa,Koko kembali kemeja tamu bersama Shandy,Betty dan bundanya menyusul 

" Nak Koko,tidak membawa isteri dan anak kerumah ini kenapa?" Tanya bunda Betty yang agak merasa aneh 

" Tidak Bu,sebab saya kembali kekota ini hanya untuk mengantar  kerumah orang tuanya.Kami bercerai sebulan yang lalu,dan saya mengantarnya pulang kerumah orang tuanya selamanya" Koko menjawab pelan suaranya,menahan malu dan kelu.

" Jadi nak Koko bercerai? Nantinya siapa yang akan mendampingi di Papua?" tanya bunda Betty,sementara Betty dan Shandy serta eyang puteri hanya menyimak dalam hati 

" Itu soal belakangan Bu,isteri saya kemarin tidak mau mengikuti saya di Papua karena ia hanya ingin tinggal bersama orang tuanya di kota ini ,tentunya saya akan mencari yang bersedia saya ajak kemanapun" Jawab Koko seraya melirik Betty seperti ia telah memiliki keyakinan bahwa Betty akan mendampinginya 

Betty hanya tersenyum mendengar jawaban mas Koko yang disertai lirik  tatapan aneh Dan merekapun kemudian  berbincang bincang lain hingga waktunya Koko mengundurkan diri                                                           

                                                                     ****

Shandy menyetir mobilnya,disampingnya bunda yang ia sayang.Sementara itu,Betty dan ruang puteri duduk di belakang mobil.Sesekali Shandy membaca chat di wassapp akunnya.Mereka menuju stasiun kereta api ,untuk mengantar bunda mereka.

" Jangan main hp kalau sedang bawa mobil" tegur mamanya saat ia berkali kali melihat Shandy membaca wassapp . Selagi Shandy meletakkan hp, Betty membaca chat di wassapp juga,hanya saja dia tidak ada yang keberatan melakukan itu .

" Mbak Betty,sungguh...sepulang dari rumahmu ,aku seperti menemukan mata angin yang benar untuk menuju tujuanku . Terus terang,aku merasakan sesuatu perasaan yang sama,seperti saat aku mengantarkan mba Betty ke sekolah ,duluuuu sekali " bunyi chat itu,dari Koko

Betty tersenyum,tapi agak pahit, ia juga merasakan perasaan yang tidak berubah seperti saat ia merasa takut mas Koko pergi meninggalkannya sendiri disekolah itu ... Dan saat ini, ia merasa bahagia bisa sep[erti kembali kemasa lampau, di satu sisi ,iapun merasakan ketidak nyamanan tersendiri. Ia mulai menulis

" Mas Koko,semua mahluk akan pulang pada waktunya.Hanya yang lupa tempat tinggalnya yang tertunda kepulangannya,.Percayalah mas Koko,tanpa akupun mas Koko akan sampai ketujuan yang sebenarnya..."  Balasan Betty sederhana.

Koko menulis chat seraya menyetir mobil saat itu,dan Betty membalasnya dari dalam mobil yang melaju .Tapi hanya itu saja yang sempat mereka tulis,Sebab mobil Koko tiba tiba saja keluar dari bahu jalan dan menabrak sebuah pohon besar,ia tewas seketika.

Disaat yang sama , Shandy kehilangan kendali karena ia membaca wassapp tanpa menyadari bahwa didepannya ada sebuah galian yang harus dihindari .Ketika ia hendak menghindari dengan membanting setir ke kanan,dibelakangnya  truck tronton melaju cepat dan kecelakaan tak terhindarkan .Betty,Shandy,bunda dan eyang putrinya menghembuskan nafas terakhir di sebuah  rumah sakit ,di saat baru saja masuk ICU 

Sebuah opera targedi rasa yang tak perbah berubah , tergelar memelas,memedihkan hati dan mengubur cita cita . Saat Koko baru saja  telah  menemukan mata anginnya,tiba tiba mata anginya kembara dan sirna dipelukan takdir.      SELESAI










Tidak ada komentar:

Posting Komentar