Minggu, 24 Maret 2024

RISALAH KESALAHAN - Novella - Karya Gabriele Richard & The Holy Spirit

 
















Hari masih belum begitu malam,suara kanak kanak bermain masih terdengar gaduhnya.
Sementara lamat lamat kumandang adzan waktu sholat Isya menyeruak diantara senyap langit dan hangat keceriaan bumi.

Aku hampir bangkit untuk mengambil ait wudhu...tapi serasa ada yang memberati tubuhku.
Aku tak pernah ragukan imanku tapi aku mengeluhkan hal yang seharusnya tidak menerpa aku..rasa malas dan enggan diiring lemas persendian menunda wudhuku.

Jangan jangan aku lebih berarti selain Nya,fikirku..
Ach..kufikirkan nanti saja...wudhuku juga nanti saja,mungkin kubawa tidur sejenak akan pulihkan kondisi tubuh yang aneh.

Akupun berbaring seraya berdzikir dalam hati yang tersiksa rasa bersalah menunda sholat.
Tapi..entah mengapa saat dzikirku semakin khusyu,wajah seseirang hadir dalam bayangan fikiran.

Aku coba menepisnya,tapi semakin kuat menggelayuti hati yang tak merindukannya...
Bahkan..semakin lama bayang itu singgah semakin aku benci dan hampir mengutukinya...

Dan entah kekuatan apa yang menolongku,tiba tiba aku pulas tertidur,dan terjaga lagi beberapa saat .Akupun telah merasakan agak ringan bebanku untuk bersembahyang.Maka kulakukan sepenuh ikhlas.
Sesaat ..au larut dalan dzikir ,meskipun aku belum mengerti betul hal besar dibaliknya.

" Ooom ..ada yang datang..." tiba tiba dari balik pintu terdengar suara Dian ,anak pemilik kamar kost yang kuhuni.

"Ya ..sebentar .." jawabku dan segera kuberesi sajadah dan tasbihku ,kusimpan di lemari fasilitas kamarku.

Ketika pintu baru saja kubuka,Dian sudah menyerbu dan menggelayut di pelukanku,he..he .he..dia gadis kecil berusia emoat tahun.

"Mana yang datang?" tanyaku
"Disana..." Dian menunjuk kearah pintu sampung rumah...
Seorang pria keren melamun didepannya..Ia tersenyum ketika melihat ke arahku.

" Ooooy anak band,sudah punya momongan rupanya .." sapanya khas..tapi khas aduuuh..aku jadi sadar ditempat seperti apa hidupku.Khas dunia hib

" Ya bung,karunia Yang Diatas " sahutku sjngkat..wooow aku ringan banget kalau harus bohong pada orang orang seperti dia.

"Malam ini ada tamu spesial buat band kamu nanti,Shella artis Bali akan nyanyi buat pengunjung atas rekomendasi relasi boss..dia nggak punya band ,jadi kalianlah yang turun"

Dia..Antonius,manajer kafe yang rumahnya searah jalan di rumah kost ini.Kebiasaan dia,kalau ada yang penting selalu face to face.

" Nggak masalah...tunggu aja setengah jam lagi " jawabku.Memang kafe itu hanya 30 meter dari rumah ini.

"Siiip ..hanya saja..kayaqnya..diia bakalan lama di kafe kita...oh ya anaknya sebelas tahun...cewe..dia bawa di sana "
Antonius tidak menunggu komentarku dia pamit hanya melambai tangan selagi membelakangiku.

" Ooom ...ini malam Selasa ,bukankah jadwal Dian belajar piano.?." Dian merengek dipelukanku setelah yakin tetamu telah pulang

" Okey Dian..seperempat jam .Dian akan oom ajari arpeggio dari C sampai B...selebihnya teruskan sendiri..oom ada kerjaan.." jawabku.Dian mengangguk.

Tak berapa lama Dian sudah berkutat dengan not not yang kuajarkan.Akupun segera berganti baju dan melenggang kerja

Tiba di kafe..
"Nah..ini dia yang namanya Bralink..dia leader band kita..posisi di guitar dan keybiard." Antonius menyambutku dengan menggandeng tangan Shella.

Shella tersenyum manis..ia melambai dan menyalami.Puterinya mencium tanganku.

Dan singkat waktu ..beberapa lagu mengalun oleh Shella dan Jimmy yang vokalis utama bandku.

Tadinya biasa saja suasana yang damai,tiba tiba ada dua meja yang pengunjungnya membuka miinuman bawaan.Kadar alkoholnya lumayan...

" Anton..ada pelanggaran nich..." bisikku pada Antonius yang kebetulan mendekat..

" Ach..bukab resiko kita.." jawab Antonius rileks aja.
Aku diam...

Tapi tiba tiba pengunjung itu melambai tangan pada Erika,puteri Shella.Ia memberi uang tapi bukan hanya sampai di situ saja,Erikab diminta bernyanyi.
Tentu tidak bisa ditolak.
Erika bernyanyi bagus..bagus sekali..iapun tiada canggung

Belakangan baru kutahu bahwa pengunjung itu satu kota asal Shella dan Erika


Malam berikutnya..hal sama masih berlangsung..tamu buka minuman ,kasih duit Erika dan yang terima angpauw nyanyi..

Malam ketiga,Erika sudah duduk dimeja pengunjung itu,Shella kelihatan biasa biasa saja ..
Aku agak cemas..bagaimana nanti pertumbuhannya?gila...anak dibawah umur nemenin orang mabuk...ach...emang bukan apa apaku..tapi...tanggung jawab moral agak menggedor gedor rasa...

Malam ke sepuluh..
Shella duduk di sebelah panggung ia barusan turun panggung,Erika barusan menggantikannya.
Ia sejenak melirik ke arahku..agaknya ia bisa membaca apa yang berkecamuk dalam hatiku ..ia menghela nafas...

Usai jam main ia mendekat
" Bang...kamu sakit?koq tiap malam pucat?" tanya Shella

"Ach nggak koq..soal pucat ...ada cerita lain..nih .lihat sepatuku..putih kan?" jawabku ingin menghindar dari fakta

"Iya..apa hubungannya ?" tanya Shella

" Pas kamu dikabarkan mau nyanyi di sini..aku buru buru siap penampilan yang uptodate..
Aku siapkan hem dan celana simpanan yang harga lumayan..tapi sepatu lamaku nggak sincron..." jawabku sekenanya..

" Lha terus..?" Shella mendesak saat aku menunda cerita

"Nah aku ke toko sepatu..ada yang kuminati.warna hitam..kupakai aja.kufikir uangku cukup..tiba tiba penjaga bilang kalau itu sepatu lelang bekas Michael Learn To Rock harganya 25 juta..
Tahu nggatk?? wajahku mendadak pucaaat ...banget ....ya ..takut kehilangan sepatu itu..
Nah..saking pucatnya..sepatu yang sudah cocok itu...ikut luntur hitamnya dan memucat...memucat lebih...lebih lagi dan kayaq gini..." jawabku

" Ha...ha. ha! !! koplaaaak...! " Shella dan teman terhak bahak .dan lupa mau interograsiku lagi.

Malam Senin..kafe hanya menyediakan food & drink..musiknya libur..
Waktuku untuk istirahat melepas beban beban..

Tapi..wajah itu lagi...ia tersenyum tak henti..
Akupun melepasnya dengan siraman air wudhu...Sembahyang malam beberapa roka'at dan berdzikir hingga larut malam..

" Ya..Allah..aku lemah seperti takdir Mu..tapi aku ingin jiwaku menjadi besar seperti Kehendak Mu..
Astaghfirulllah Al 'Adzim.."
Demikian akhir doaku sesudah bersholawat dan mohon ampunan orang tuaku.

Keresahan atas bayang wajah itu teratasi,segera kuperiksa saldo ATM dan seluruh uang tunai tabunganku.
Ach..lumayan..cukup untuk sesuatu yang berarti..lalu aku tertidur pulas.

Disebuah swalayan,beberapa anak anak menadah tangan,beruntung..mereka masih hidup di lingkungan sosial yang beradab.Jadi ada saja yang ulurkan tangan..termasuk aku.

Beberapa menit selanjutnya.entah oleh hal apa,sebuah taksi kehilangan kendali,tiba tiba kecepatannya meningkat dan mobil menjadi oleng ...tak ayal menabrak beberapa sepeda motor yang sedang parkir dan motir yang terpental menimpa dua anak peminta minta dan seorang musisi yang sedang memberi uang..

Seorang meninggal seketika dan seorang lagi tak sadarkan diri dan musisi itu juga pingsan dengan luka ringan tapi benturan di ulu hati membuatnya pungsan.
Celakanya..musisi itu adalah ...aku....Koplaaaaak!!!

Aku dibaringkan di kursi panjang rumah samping swalayan.Disebelahku seorang pria bertatto berbaring mengerang erang..dahi dan hidungnya berdarah

Tak lama beberapa polisidan seorang wanita gemuk berbusana mewah mendekati pria bertatto itu..

" Heh..preman...kowe sudah buat aku rugi....moasaaak..pura pura pesan taksi koq sopirnya di suruh mabuk..mobil kau bawa..mau kau jual kemana?..hayoh ngomong!!"

Pemilik rumah encoba melerai wanita itu dari tepi ranjang ..tapi malah kena bentak.
" Kamu jangan cawe cawe..!!" bentaknya

"Bukan gitu bu...percuma ibu bicara..orang itu masih koma...mana mungkin dengar ibu?"..jawabnya
" Koma apa!?..wong sudah gereng gereng gitu koq..koma tiga!?? heh!?." wanita gemuk tambah marah.

Saat hampir salah paham..datang beberapa laki laki bertatto juga dan berbisik menanyai orang penolong kami,mereka tidak sadar ada polisi disitu.Wanita gemuk itu masih berkacak pinggang.

"Nyonya jangan kasar pada orang sekarat..!! tanya sama yang segar bugar aja..nih..tanya saya yang suruhan dia bawa taksi nyonya..!!" bentak pria bertatto itu

Wanita gemuk itu bukannya reda malah kalap...
"Memang apa hak kamu?! apa aku pakai duitmu buat beli mobil..?! Apa kamu merasa ahli waris saya. ?!" Tangan wanita itu hampir melayang kearah orang itu tapi polisi disebelahnya lebih sigap mendahului membekuk dan membawa keluar kamar untuk tindak lanjut..

" Maaf pak...saya hanya menggertak...ampuuun..:"
Terdengar suara laki laki tadi ketika dicecar pertanyaan polisi..

Sementara tergopoh gopoh seorang perempuan tua mendekati perampok yang masih pingsan di sebelahku...

' Kaper Kaper...kenapa khilafmu begitu sesat?..hk..hik..hk...Ngrampok ya ngrampok...masa iya anak sendiri dibunuh ..hik...".. kata wanita itu disela isaknya.

Pemilik rumah menepuk

"Maksud ibu..yang meninggal di tempat korban taksi oleng itu puterinya?" tanya wanita pemilik taksi itu dan ia memberi isyarat pada orang yang bersamanya untuk keluar ruangan itu,setelah melihat wanita tua itu mengangguk.

Aku menghela nafas "Inalillahi wa ina ilaihi roji'un..astaghfirullah al adzim.." sebutku dalam hati berulang ulang saat membayangkan betapa tragisnya tragedi rumah tangga itu.
Bayangkan..
Seorang ayah merampok tak sengaja anaknya terbunuh dalam aksinya...wah..seperti kisah sinetron...Tapi ..mana ada adegan seperti itu?

Pelan pelan.aku bangun dan mengucap terimakasih pada para penolongku serta pemilik rumah..aku berpamitan pulang ke rumah kostku yang tidak berapa jauh.

Aku sadar bahwa sebuah kota besar identik dengan persoalan besar.
Kanak kanak yang menemani orang minum..perampasan taxi dan hal yang berkaiatan dengan kebutuhan uang,kerap menjadi pemicu tumpahnya darah dan putusnya persahabatan...bahkan persaudaraan..

Aku ingin menulis hal hal itu tapi aku kurang menguasai sastra..ach..kubawa diam aja.

Tapi saat adzan Maghrib berkumandang ,aku mulai menyiapkan ruang sholat darurat.
Di sajadah itu kadang aku beharap ada bidadari yang tiba tiba menjelma di depan sajadahku..harapan itu masih belum hasil..yang ada..selalu saja Dian yang mengetuk pintu kamar terus masuk..kadang nyelonong begitu saja .Dasar anak anak.

Betul saja.
" Oom Dian belajar..
Dian sudah di punggungku bergelayut saat aku menggelar sajadah..
"Ya..oom sholat dulu..." jawabku
Dian diam memandang sekeliling sejak ia melepas gendhonganku hingga aku usai sholat ..

" Dian nggak pengin jadi insinyur atau dokter ?koq malah fokus sama keyboard.?" tanyaku iseng

"Kalau bekajar piano kan menambah latihan matematika Tentu nanti kalau belajar yang sulit akan lebih mudah" jawab Dian sekenanya...

" Oh gitu.." kataku lagi..
Dan saat kuperhatikan Dian belajar..wajah yang khas sangat kuat membayang di angan..sepertinya ia menyatu dengan Dian yang sedang memainkan tuts piano..

Fikuranku mengembang sendiri.
" Jika dulu aku sebaik pada Dian kepadanya..mungkin ia sudah bersamaku di sini mengangkat beban jiwa bersama sama "

" Hayooo..ketahuan ! ,ngelamun yaa?..Oom ajari Dian mainkan lagu kesukaan mama..." Dian menyadarkanku.

" Baiklah..lagu apa?" tanyaku
" Ini dengar dulu oom.
.Judulnya..Risalah Kesalahan.." jawab Dian
" Oh. aneh sekali..sepertinya oom tahu lagu itu dipopulerkan oleh Chendrawasih Sumbadra?" komentarku

"Oom kenal?" tanya Dian hanya menebak
Aku mengangguk..
"Oom bacain Lyriknya..gini.." aku bersiap berpuisi..Dian sudah terkagum kagum

" Risalah Kesalahan 
Bagiku kau dermaga bahtera jiwa
Kepadamu selalu aku ingin berbagi rasa
Sepertinya telah terpenjara jiwaku
Dalam bilik sempit cinta padamu

Hanya sedikit kau mengecewakanku
Hampir kumenilai tak sepadan harga kesetiaanku untukmu
Kau berlari saat ingin kudekati
Kau menghilang saat ku butuhkan sentuhan hatimu

Reff
Diriku tak seperti yang kau fikirkan
Tak mudah jatuhkan cinta pada lelaki
Tak silau memandang kemewahan hidup
Yang kucari ketulusan kasihmu
Oh..slalu kumaafkan jika kau belum mengerti itu "

Dian bertepuk tangan keras
" Horeee..oom hafal diluar kepala.."
Dian kupeluk dan kubimbing menuju keyboard psr 970 yang kusediakan untuk lafihannya
Seperempat jam ia sudah mampu memainkan partitur lagu itu. (Ke Bagian 2)

DIDO & NUNIEK - Cerpen Karya Gabriele Richard &The Holy Spirit

 



Malam Senin di kawasan kuliner malam, hanya beberapa orang saja yang masih berada di area itu 

Mereka menebar di tenda tenda pedagang makanan yang hampir kosong. Tidak sedikit tenda pedagang yang hanya pedagang dan pembantunya saja yang berada didalamnya.. 

Saat kitu,...Dido sedang menambahkan beberapa asbak di meja dagangannya. Ia salah seorang pedagang kuliner malam

" Untuk apa di tambah asbak lagi,yang sudah ada juga masih kosong nggak ada puntungnya " tegur Nanik,isterinya yang membantunya berjualan.seafood. 

' Lho..ya untuk kerjaan...daripada bengong duduk duduk saja...." jawab Dido 

" Oooh gitu?..okey laaah...nanti buat kerjaanku beres beres kalau dagangan ini tutup..adil kan?" Nanik memperpanjang suasana humor..

 " Hush...memang kita hanya nonton langit di sini...kita usaha...ya paling tidak berharap ada rombongan pelanggan kesini...jadi bisa pulang modal...jangan pesimis gitu..." Dido protes...

 " Ya sudah...jangan ngambek...kita doa saja...sambil...yaah ..buka buka ayat suci...jadi mengharapnya nggak plong .kosong hasil.." jawab Nanik " Walaah..betul itu..koq kamu bisa pinter gitu? " kelakar Dido

 " Lho .kalau nggak pinter mana mau sampeyan dulu nglamar saya..." jawab Nunik banyolan. Tiba tiba,seekor kucing melompat datang dari luar dan menabrak nabrak asbak dan sendok garpu di tempatnya... Ngeeeeoooong. !!.

 " Waduh..kucing koq mabuk? Heh...cing..larinya lihat lihat jangan nabrak nabrak kaya gitu..!!" Dido berteriak kesal..

 " Lho..sampeyan bisa dialog sama kucing..?koq nggak bikin.sirkus aja...?" kata Nanik sambil ngakak melihat kucing kelabakan dan Dido yang kedungu dunguan mengejarnya... Kucing itu terus berlari sampai hilang ditelan kegelapan...

 " Wah..apes..tamunya malam ini hanya kucing.." ujar Dido mengeluh ditutupi canda 

Tiba tiba seorang anak belasan tahun menampakan diri di pintu warungnya 

" Bang..lihat kucing loreng putih coklat kesini nggak?" tanya dia

 " Itu masalaaahnyaaa..saya nggap pengin lihat kucing itu ,koq dia t9iba tiba  nongoool, ach..barusan mampir kesini ya?kucingmu ?" jawab Dido balas nanya

 " He..he .abang kocak...iya bang,tadi kucing saya..maaf kalau ngeganggu.." kata anak itu.. 

" Eh,bang...sekalian saya di suruh ayah untuk pesan limapuluh.porsi udang ,lengkap nasi...buat ntar malam ...dirumah ada rapat RT.." anak itu menambahkan.. 

Dido menengadah ke atas komat kamit ..berdoa syukur pada Yang Kuasa... " Oh..ya..saya antar nanti...ada nomor yang bisa di hubungi..? "kata Dido setelah hilang kagetnya...

Tak lama,terlihat Dido membersihkan udang untuk bersiap diproses dipenggorengan.Nanik menyiapkan piring piring untuk pesanan mendadak itu..

" Koq nyiapin piring...kan nggak di makan disini?" tegur Dido pada isterinya..
" Aduh..maaf lupa,ya boss...siap kotak nya...he..he..he..tadi kudengar dia pesan 50 porsi...yaaah,ingatanku ke piring piring ini..." jawab Nanik yang tambah lucu kalau salah...

" Nggak apa...yang penting ,kita jadi menyaksikan kebesaran Allah,baru niat baca ayat Nya...eeh...rejeki datang...
Alhamdulilllah..." Dido terharu atas kejadian itu...

Beberapa saat,kotak nasi udang sudah siap dan Dido bergegas mengantar...

Nanik sedang bersiap memberesi piranti dagangannya yang akan di tutup...saat itu Dido kembali dari pemesannya..

" Waduuh...koplaaak koplaaak,untung nggak kita kasih lembar doa makan dan ucapan selamat makan di kotak kardus makanan itu..." ujar Dido agak kesenangan..

" Memang kenapa ,bang? " tanya Nina penasaran...

" Tahu nggak...yang pesan memang kumpulan RT,tapi acaranya lomba kecepatan makan untuk kucing bawaan masing masing...jadi ...dagangan kita nasibnya jadi santapan kucing...." jawab Dido

" Pantas saja..pesan hanya udang sama nasi...yaaa. nggak apa...yang penting rejekinya..."

Keduanya lalu menutup warung tendanya dan segera pulang untuk beristirahat hingga esok hari...

                                                                                  *    *    *    *    *

Di sebuah pekarangan,anak anak bermain.Masing masing usia terpaut satu atau dua tahun.Tak berapa lama seorang ibu berpakaian sederhana,keluar dari rumah sederhana melintas pekarangan itu.

Ibu itu menjnjing sebuah tas plastik yang berisi rantang rantang makanan.Ketiga anak itu berhenti bermain dan mengawasi apa yang di bawa ibu meeka

Anak yang paling kecil segera  berlari mendekati ibu itu,sang ibu berhenti dan membopongnya ..

Selagi,ibu itu sibuk dengan bungsunya,nak tetua mebuka buka rantang makanan itu , Ia dan adiknya tersenyum kemudian menutupnya lagi.Tak lama ia berbicara pada ibunya

" Ibu,kalau pulang dari eyang ,bawakan singkong rebus sebanyak itu" jarinya menunjuk tas plastik itu 

Sang ibu mengangguk setelah meletakkan puteri bungsuya.Tapi ia bersiap untuk pergi ,dan ia berpesan

" Kalian jangan kemana mana,tunggu ayah kalian,.....Sebentar lagi pulang kerja"  kata sang ibu itu tanpa menanti jawaban ,ia melangkah keluar pekarangan menuju jalan

Anak anak kembali bermain..

Tiba tiba seorang ayah masuk kedalam pekarangan itu dan ia masih menjinjing cangkul yang kotor oleh tanah cangkulan yang belum di cuci,bajunya juga belepotan...

" Anak anak...siapa ikut ayagh ,menemui paman Dido?"

Tanya pria itu....

Ketiga anak itu menjuk jari,tapi tiba tiba 

Teeet.teet..!!
Suara klakson.mobil terdengar,lelaki tua itu diikuti anak2 nya menghambur kejalan depan pekarangannya..

"Dido...sudah kaya kau....biasanya ke sini naik ojek.." sapa lelaki itu.seraya membukakan.pintu mobil..

" Ach..sama aja...dulu naik ojek,sekarang malah mau jalan kaki..." jawab Dido khas kelakarnya...

" Ini apa bukan mobil?" lelaki itu ,Sapto menepuk 2 mobil saat bertanya

" Yaaa mobil...tapi kalau masuk rumah kamu pakai mobil,apa nggak ambles? ' jawab Dido seraya ketawa...
Semua beriringan masuk rumah sederhana milik Sapto...

" Kamu koq bisa kaya sedemikian waah..apa kamu jualan ikan laut yang kalau sudah mateng ikannya beranak lagi di piring jadi harganya dobel2?" tanya Sapto ,Dido ngakak...

" Nggak ,mas...aku sering dapat pesanan banyak...jadi duitnya kumpul cepat.." jawab Dido terus terang...

' Nunieknya kemana? Nggak bareng?..Tadinya aku mau kerumahmu..ini ...anak 2 mau ikut juga...tapi kamu sudah disini tiba tiba...ya..batal.." kata Sapto ...

" Nuniek sedang siapkan pesanan lagi...aku sebenarnya mau beli kotaknya ke toko ,tiba tiba ingin mampir..eh ,ada yang mendesak koq jam segini ninggalin rumah mau ke saya?'..tanya Dido...

" Ada....aku mau saran nich...bagaimana supaya aku nggak nganggur terus...anak anak sampai pada buat cimplung ubi di jual di pengajian.." jawab Sapto....

" Ooh..gitu...hm...nanti kita bahas...sekarang kita nikmati kepiting rebus yang kubawa buat kita makan bareng..ok?" Dido menawarkan.yang bagus,semua kegirangan...

Dido bersikap mirip ustadz saat akan bicara,usai santap siang bareng..

" Begini,mas...
Semula usahaku sepi,tapi Nuniek kasih saran dan ngelakuin.sendiri..baca baca ayat suci selagi nunggu pembeli...eh,hasilnya...dagangan kami maju pesat...mas Sapto boleh tirukan ..." kata Dido sangat meyakinkan..

" Tapi...' Sapto ingin bicara...

" Ach..nggak ada tapi tapian...kerjain aja mas..." Dido mendesak.
Sapto mengangguk dan menatapi anak isterinya dengan.ketawa yang ditahan...

Anak isterinya juga membalas tatapannya dengan menahan tawa juga...
Akhirnya tawa mereka pecah setelah Dido pulang...

                                                    * * * * *
Dua bulan berikut,Dido dan Nuniek sedang berjualan...
Datang pelanggan,mereka pesan nasi cumi beberapa puluh kotak.
Dido dan Nuniek kegirangan..

" Mas Dido...kalau bisa harganya kurangin sedikit...ini pesanan untuk kenduri kematian ayah saya.." kata pemesan itu memohon..

Dido terkesiap,tapi ia segera mengangguk..

Hingga beberapa mnggu ,pesanan datang untuk kenduri kematian terus menerus...

Selagi Dido dan Nuniek terheran heran,hp nya berdering

" Walaikum salam,sudah punya hp mas Sapto..?" tanya Dido saat menjawab telphone..

" Alhamdulillah..sungguh manjur nadihatmu...aku jadi tambah banyak kerjaan dan pesanan jualan " jawab Sapto

" Waaah...syukurlah...jadi mas Sapto betul betul baca baca ayat suci nunggu kerjaan?" tanya Dido lagi

" Betul Dido..." jawab Sapto..

" Eh...ngomong ngomong nich..kita kan tetangga desa...usaha terbaru mas Sapto apa?" tanya Dido.
..

Tiba tiba Nuniek menyela pembicaraan mereka
" Mas..besok antar aku ke dokter lagi
Sepertinya jantungku ada yang nggak beres selain maag kemarin " kata Nuniek..

Dido terkesiap dan ia melotot
" Hush..ngawur...hanya masuk angin saja kali?"kata Dido yang didengar Sapto.

' Ada apa dengan Nunik ,Dido?" tanya Sapto ditelpone

" Anu ,mas...Nuniek sakit jantung..
Besok kuantar ke dokter " jawab Dido

" Sekarang aja.takutnya memang perlu penanganan dini ' Sapto mendesak

" Ach..besok saja..tanggung ada pesanan nich.
Eh..ngomong 2 ,belum dijawab kerjaan situ ' kata Dido mendesak

" Ach..ada aja...hanya jualan nisan dan jasa gali.kuburan..." jawab Sapto..
Tiba tiba Dido akan menutup telepone
Ia jadi ingat bahwa ia yang mengajari Sapto ikhtiar...
' Waaah...gawaaat! jass kuburnya jadi lariiiis...." kata Dido dalam hati..

" Maaf mas..saya buru buru...mau antar Nuniek ke dokter dulu....takutnya ia kronis...
(Takutny juga,saya jadi beli nisan dari situ..= dalam hati Dido )"

" Okey..okey...terus ,kata Nuniek doanya bagaimana...? ' tanya Sapto..sebenarnya serius...tapi Dido nganggap sedang becanda..

" Yaa. Mbuuuh...mas Sapto ...sebenarnya aku kepengin ketawa atas kejadian mas Sapto...yang laris...he..he...he...tapi ini Nuniek..

Batalkan aja ikhtirnya..." kats Dido serius juga...

" Ya sudah...besok saya baca komik saja...ini kamu yang ngajarin lho..."

Dido lega dan ia memapah Nuniek masuk mobil untuk di bawanya ke dokter...

Entah mujizat apa,usai diperiksa doker,Nunik di nyatakan positif sehat wal afiat...

Dido kegirangan..tapi ketika Dido akan membayar biaya dokter,sebuah mobil rem blong menumbuk ruang praktek dokter itu,selagi Nuniek masih didalam...
Tak ayal...keduanya meninggal seketika...

Dido terkesiap di deoan kasir yang juga recepcionyst...ia hampir pingsan...

Di pemakaman,Dido bertanya pada Sapto yang masih memegang cangkul ,tadi ia turut menggali liang lahat..

" Mas...katanya sudah tidak baca ayat suci,koq masih laris..." Dido bertanya seraya menabur bunga,hatinya remuk..

" Saya hanya baca komik koq ." jawab Sapto..

" Komik apa..?" tanya Dido...
" Kisah Rasulullah.." jawab Sapto..

" Ya sama sajaaaaaaaa...huh!!' Dido kesal



                                                 *    *    *    *     *


" Mas Sapto....saya belum.kuat nanggung hidup yang perih banget atas tragedi isteriku..Saya nitip dagangan saya,biar isteri dan anak3  sampeyan yang ngurusi..saya pulang kampung..." kata Dido..

" Jangan cengeng gitu...pasti Nuniek.lebih tahu hal hal begini...kalau kamu cupet hatinya,terus nyalahin.yang Maha Kuasa...apa nggak.nyiksa isterimu??  Jangan ninggal usaha..."
Sapto menasihati.


" Nggak mas..aku nggak nyalahin siapa siapa...aku ini orang biasa yang pasti oleng oleh kepahitan seperti ini..
Mas..mungkin ini tambahan rejeki dari Yang Maha Agung...saya mau cuti sampai saya kuat lagi..." jawab Dido..

" Ya wis...sakarepmu ..yang penting belajar ikhlas...kapan berangkat?"   tanya Sapto..

" Nanti malam...pakai bus Karunia Jaya...dari terminal Bekasi...Busnya nyaman tanpa AC..aku boleh  merokok didalam..." jawab Dido

" Lho..mobilmu kenapa?" tanyal Sapto

" Sementara ini,aku mau ninggalin apa saja yang kuperoleh bersama almarhumah..." jawab Dido

" Ya sudah... Salam aja untuk Seno adikmu dan pak dhe Sastro ,bapakmu ya....  ".   Sapto melepas Dido..


                                                                                    *   *   *   *   *  


Disebuah kota kecil di Jawa Tengah..
Lelaki tua sedang membersihkan kopiahnya dari debu,lalu.mengenakannya..Setelah itu berjalan pelahan keluar kamar


 Ketika berjalan melewati pintu kamar anak bungsunya.
" Seno...mari kita  jama'ah shubuh...( ia menatap jendela bagian luarnya,tampak kegelapan saja dan sedikit chaya cahay lampu) Sepertinya sudah hampir iqomah..." katanya lagi

" Injih romo...Tapi,mas Dido belum.mau bangun...apa di tinggal saja?"  sahut Seno dari dalam..

Lelaki tua itu geleng geleng kepala..
'' Ya sudah...bangunkan.saja lalu tinggal.." jawabnya...

Seno bergegas keluar sambil.menyemprotkan.air dengan alat semprot pangkas rambut kewajah Dido...iapun kemudian berlari kecil.

" Kampreeet..siapa ini..!!?" Dido yang merasakan sesuatu yang dingin di wajahnya...bangun tiba tiba dan mencari sumbernya...
Kemudian ia bergegas wudhu setelah ia tidak menemukan pelakunya tapi iqomah masjid terdengar.

Tiga malam berlalu..
Dido sudah di kampung halamannya selama itu..

" Dido...ayam bapak sudah di kasih makan..?"  tanya ayahnya saat mereka duduk duduk.diruang tamu..

" Masa iya ,saya disuruh ngasih makan ayam..kan ada Senon,romo" Dido protes...

" Eh..Seno..iya ...betul Seno..maaf saya kira dulu kebiasaan bapak suruh kamu ngasih makan ayam,belum sembuh...he..he..he..maaf"

Dino dan ayahnya terbahak bahak..
" Ya romo..
Sebenarnya nyuruh Seno kasih makan ayam itu juga salah..Yang wajib ngasih makan kan orang tuanya..." Didi becanda lagi..

" Terus ,habis makan terus berangkat sekolaaah? Dapurmu...ayam.di samakan orang...ha..ha..ha..."
Pak Sastro tidak kurang banyolan..

" Mas Dido...
Sampean koq tidak di Jakarta saja saat saat baru barunya mbak Nuniek meninggal?" tanya Seno ketika baru saja ia keluar kamar...

" Alaaah kamu nggak suka kamarmu.jadi penuuuuh...Aku kepengin.di sini..ada romo..ada kamu...supaya tidak begitu sedih.kehilangan.."
Jawab Dido..

" Itu egois mas...bukankah harus di selamati selama seminggu?..Siapa yang mau doakan.kalau ditinggal minggat...? " kata Seno.
.
" Iya Do..
Kamu koq mentolo...?" ayahnya menimpali.

" Besok besok lah...
Soalnya....saya masih yakin bahwa Nuniek itu belum ninggal..
Takutnya....malah dia kesiksa ...belum mati koq di kenduri....."  jawab Dido...

" Oalah nak...yaitu yang harus kamu atasi....
Kalau kamu nggak selamatan yaitu...pikiran.di ganggu bayang ilusi sepertinya ia masih hidup.." tegur pak Sastro..

'' Betuk itu mas...lama lama bisa omong sendiri seolah olah ada isterimu..." sahut Seno.

" Kampreeeet...slametan ya slametan...tapi jangan.ngancam saya mau sedheng...slompreett"
Dido kesal dan ia segera kekamar mengambil dompetnya...

" Seno...tulung kamu belanja...kita.kenduri di sini aja...malaikat juga nggak keberatan kalaun kendurinya pindah alamat kota.." kata Dido...

Seno menerima uangnya dan bersiap berbelanja,tapi ia harus menemuia ayahnya dahulu


" Romo...pakai ayam apa daging.sapi?" tanya Seno pada ayahnya

" Pakai telor pindang dan.daging kelapa goreng campur kedelai aja..itu tradisi dulu..." jawab romonya

Seno tanpa menambah kalimat lain,ia terus pergi belanja dengan sepeda motornya


Ketika ia sudah berada di dalam los sayur mayur,ia berpapasan dengan  seseorang yang tidak asing baginya,tapi ia tidak ingat siapa.
Seno tak memperpanjang..ia segera memilih kebutuhannya.
Lalu pulang..


Saat ia berada di depan rumahnya...iapun melihat orang tadi sedang duduk di sebelah kakaknya,dari jauh keduanya tampak tidak saling bicara.                  Maka ia menuju pintu samping untuk menghindari keduanya..

Didapur ia segera mencuci bahan masakannya..ia fikir di halaman kakaknya sedang ngobrol dengan tetamunya
Saat sudah ada yang mateng,ia ingin turut menyapa tetamunya..


" Sudah pulang orangnya? " tanya Seno ketika ia tidak melihat orang tadi di situ

" Siapa?" tanya Dido keheranan

" Yang tadi di sebelahmu itu lho...orangnya mirip banget mba Nuniek..hanya saja,ia lebih putih..." jawab Seno..

" Ngawur kamu..dari tadi aku sendirian koq.." jawab Dido penasaran

Seno terkesiap...
" Sungguh ..saya lihat ia duduk di situ..makanya,aku masuk lewat samping..takut  mengganggu kalian.." jawab Seno...

Dido sadar apa yang dialami Seno..ia yakin istetinya mengikuti sampai di sini....

" Waah..itu Nuniek ...Ia mengikutiku samapai di rumah ini...
Jangan khawatir...selesaikan masaknya aja..kita kenduri siangan ..
Kita harus cepat doakan Nuniek.." Dido membuat keputusan bijak

Maka ketiganya,dua anak dan seorang ayah disibukkan oleh urusan kenduri...
Hingga usai Dzuhur,tetangga sudah kebagian kotak nasi kenduri dan amplop uang ala kadarnya..

Dan Seno yang memimpin tahlilan bertiga dan beberapa laki laki yang segera bertandang  tanpa perlu undangan dalam bentuk apapun,ketika tahu ada nasi kenduri dibagikan

Itulah sisi kebajikan di daerah..semua siap beramal ibadah tanpa menghitung  hitung kerabat atau bukan .

                       *  *  *   *   *
Malam hari,usai kenduri dan doa doa untuk Nuniek...................
Dido terbaring menerawang hal yang belum pernah ia fikirkan selana ini...                                                                                                                                                               Seno di sebelahnya ,seperti terhipnotis sesuatu ,mata terpejam tanpa peduli apa saja yang terjadi..


" Nuniek...aku mengenalnya saat aku mencari rumah kontrakan...ia usai mengaji mengantar aku hingga halaman  koñtrakan milik pamannya..

Ach...ia dulu  takut pohon besar dikuburan itu ..
Ia selalu berjalan dibelakangku  sambiln memegang punggungku saat  tiap kali  melewatinya...sewaktu kami  berpacaran...

Sekarang  ia malah  berbaring  dibawahnya...
Kasihan kamu sayaang..."

Dido meneteskan air mata ...deras...semakin deras...akhirnya pekik sedihnya meledak....Aneh,Seno juga tidak bangun untuk menenangkannya

Tiba tiba...sepertinya dari luar jendela,sesosok manusia ,ach...betul.....ia seorang wanita...rambutnya terurai...
Ia melambai kearah Dido...

Dido tanpa sadar mendekat,tapi  ia sempat melihat ada tubuh mirip dirinya terbaring tak bergerak ...
Dido  tak peduli...ia lebih pedulikan  isterinya.....

" Mas...takuuut...temaniiiii.....hik..hik..hk...." wanita itu merintih...

Dido seperti biasa memberikan punggungnya  untuk dipegangi..
Dido melangkah tapak demi tapak ketempat tidurnya....

Saat Iqomah tiba,Seno  mendapatkan sosok Dido telungkup tak bernyawa...


                                                                                  *     *     *     *     *

Ketika  di pemakaman,

Sapto mewakili kelurga Dido ,berbicara perihal almarhumah.
Mata berkaca kaca,iapun gemetaran...tapi ia nekad bicara

" Sudara .....Dido adalah sahabat tgerbaik saya.....semasa hidupnya ia seorang pengusaha yang ulet..sekaligus,tidak perah menyerah kepada kemusyrikan...Ketika dagangannya sepi,ia hanya membaca ayat ayat suci Al Quran,bersama isterinya yang juga alamarhumah beberapa hari lalu..

Mungkin ini sesuatu yang baik dari Allah bagi umat yang lebih mengingat Nya daripada mengingat kekuatan dunia....

Dunia bagai manusia ,tidaklah berumur panjang...tetapi tindakan manusia didunia ini  ,yang akan menentukan derita itu pendek atau panjang di akhrat kelak..

Mungkin bagi Allah untuk Dido dan isterinya,yang terbaik adalah segera meraih kebahafiaan di akhirat,daripada bercapai capai di dunia..

Mari kita doakan,agar...mereka berdua,....hk...hk...hk...Husnul Khitomah...Amin "                 

                                                                          

Atas ucapan Sapto,semua yang melayat,sangat haru sekaligus bangga kepada tetangganya yang salih dan menjaga nama baik lingungannya  dengan kesalihan..

Matahari semakin tinggi.....satu persatu pelayat kembali 

                                                                                      *     *     *     *     *







Jumat, 22 Maret 2024

KEMBANG ASA DIDAHAN MASA - Cerpen Karya Gabriele Richard & The Holy Spirit

 Peserta Lomba Menulis Menulis Cerpen & Puisi.                                .....                        ...          Thema : BERDAMAI DENGAN MASA LALU


                                                                                      



Gema tahlil menjelang adzan subuh membangunkan seisi kampung yang berpenghuni hanya beberapa puluh keluarga. Dimas yang sudah bangun sejak tadi,segera mengambil air wudhu .Usai wudhu ,ia bergegas berjalan ke arah masjid untuk ikut berjamaah.

Dijalan ia hampir mendahului seorang kakek yang sedang berjalan kearah sama.Kakek itu adalah Mbah Kodir yang sudah berumur delapan puluh tahun,langkahnya pelan dan jalannya agak membungkuk.Karena Dimas melihat nya,ia melambat jalannya dan berusaha jalan disamping Mbah Kodir.

" Nak Dimas duluan saja,Mbah sampainya agak lama " Mbah Kodir yang menyadari ada seseorang menemani,iapun berkata demikian.

" Mbah,saya ingin menemani embah jalan,siapa tahu akan mendapat cerita pengalaman Mbah di masa lalu tentang kampung ini " Dimas memberikan alasan.

" Waktunya sedikit,nanti kerumah saja ,nak Dimas bisa mendengar lebih banyak masa lalu kampung ini " Mbah Kodir menolak lagi,Dimas tidak memaksa dan ia segera mendahului Mbah Kodir untuk lebih cepat tiba di surau.


Dimas di pintu gerbang surau ,ia berniat berwudhu lagi,maka ia berbelok kearah samping surau.Disana ,Nuraini sedang berwudhu dan hampir selesai .Dimas menunggu untuk memberi jalan lewat keluar tempat wudhu .

Surau itu kecil,sehingga tempat wudhunya juga kecil, pria dan wanita masih menjadi satu jika berwudhu. 

Nuraini cucu Mbah Kodir,dan ia satu satu nya gadis yang berjamaah di surau itu,sebab mayoritas kampung itu beragama lain  .Sehingga ,ruang hati Dimas tidak bisa menjadi luas terisi sosok sosok wanita selain Nuraini.Dan Nuraini juga sangat menghormati Dimas dan sangat menganggapnya sebagai bagian dari hidupnya di kampung itu 

Saat  Nuraini keluar tempat wudhu,Dimas menjauh dan ia berwudhu setelah tidak ada siapapun .Dimas tidak ingin wudhu Nuraini batal karena berbicara dengannya .


Saat kaki Dimas hendak memasuki ruang dalam surau,ia melihat sandal yang ia kenal sekali,sendal Mbah Kodir.Lho,cepat sekali Mbah Kodir sampai,pikirnya keheranan.Dalam kemasygulan ,Dimas berdiri dibelakang Mbah Kodir yang bersiap menjadi imam sholat subuh di hari itu 

                                               ****

Matahari baru saja muncul dan selaput gelap tipis tiba tiba seperti kelir yang ditarik keatas di panggung opera,terang menyinari seisi alam kampung Dimas 

," Mas,aku pergi dulu " Nuraini yang lewat di depan rumahnya,berhenti menyalami Dimas ,berkata sedikit sekali . Saat itu  Dimas yang sedang memberi makan ikan piaraannya di depan rumah .

" Hati hati,nanti Mbah saya yang jaga" jawab Dimas melepas Nuraini yang akan berangkat kerja di sebuah swalayan .Nuraini mengangguk dan ia berangkat dengan lega ,sepeda motornya dikendarai pelahan meninggalkan kampung itu 

Usai memberi makan ikan,Dinas bergegas menyeduh kopi untuk di simpan di mug besar,tak lupa ia menyiapkan roti beberapa potong yang di tempatkan di toples kecil,sedianya untuk mengirim Mbah Kodir.Hal rutinitas  seperti itulah yang Dimas lakukan di kampung ,hingga beberapa tahun kemudian ,.....

" Ayah,ikannya banyak yang mati .." seru seorang bocah dari tepi kolam ikan .Ia sedang memperingatkan ayahnya hal nasib ikan ikan peliharaaanya 

" Kemarin sore ,ada air dari atas yang penuh busa sabun dan limbah  pabrik ,nanti ayah bersihkan " jawab ayahnya,Dimas yang telah dewasa dan memiliki seorang putera dari Nuraini 

" Isi airnya pakai air sumur bor saja ayah,supaya aman " Bocah itu memberi usulan masuk akal.Dimas yang sudah disampingnya ,seraya memandang ikan ikan ia membelai rambut kepalanya.

" Ayah pikir juga iya,kamu berangkat  sekolah saja ,nanti ayah bereskan urusan kolam kolam ini ...." Kata Dimas dan anak laki lakinya berlari kedalam untuk mandi dan berganti pakaian 


Dimas mengantar anaknya kesekolah di kota  ,  sebelum pulang ia mampir di toko pompa air listrik .Kebetulan pemilik adalah teman sekolahnya dahulu ,dan tinggal di kampung yang sama.Namanya Dito


" Kamu benar benar wajah kampung kita,ingat cerita Mbah Kodir asal usul kampung kita?" Diri  membuka obrolan dengan  mengingatkan Dimas pada kisah kakek mertuanya 

" Ya ..Mbah Kodir cerita kalau dahulu,ada kelompok pemuda  gerilyawan yang sembunyi sembunyi memelihara ikan untuk membekali tentara tentara yang berperang melawan Belanda " jawab Dimas

" Dan kamu sekarang memelihara ikan ikan untuk mendukung pedagang pasar yang perlu barang dagangan,setengah pejuang nilaimu .." kata pemilik toko itu yang membuat keduanya tertawa terkekeh kekeh.Tapi hanya sesaat ..

" Aku kasihan melihat anakku,ia lahir hanya setahun  memiliki seorang ibu.Kepergian Nuraini terlalu cepat " kata Dimas ,yang membawa nuansa haru bagi keduanya.Dito memainkan fullpennya seraya menunduk,tidak berani menyela 


" Nuraini ,tidak ingin aku menyalahkannya,tapi setidaknya dia harus memberitahu kalau perutnya sering berasa sakit dan linu berkepanjangan.Jika ia bicara hal itu jauh sebelumnya,setidaknya aku membawanya kerumah sakit untuk diperiksa lebih akurat ...Tapi ia tidak bicara apa apa...hingga ia dinyatakan kanker stadium 4"  Dimas kembali bertutur masalah keluarganya...

" Dimas ...ikatan takdir  memang bukan kuasa manusia untuk menolak,walaupun s benarnya manusia bisa merubah dengan usaha dan doanya  Mungkin takdir isterimu berlanjut karena jiwa yang polos mencinta kamu

Nuraini mungkin ingin bicarakan hal gejala sakitnya,tapi ia tidak ingin kamu kebingungan mencari biaya besar untuk mengobatinya ..Ia bijak,ia menyimpan derita  untuk tidak menyusahkan mu...Apalagi saat itu ,ia baru melahirkan dan kamu mengeluarkan banyak uang hingga sepeda motor kamu dijual.." akhirnya Dito mencoba meredakan sesal Dimas 


" Betul katamu....kadang,ketulusan cinta membutakan akal untuk menyelamatkan diri .Ia mengira aku  menderita karena kehilangan harta,padahal aku lebih menderita kehilangan dia. .Aku gagal memperoleh kepercayaan darinya ,bahwa aku lebih memikirkannya dari segala milik  .." Dimas mulai menitik air mata di kedua pipinya .Dito takut,duka Dimas berlarut larut...ia mencari pencair yang efektif.


" Dimas...yang telah terjadi,biarlah menjadi pijakan hikmah.Jangan kamu terlalu memikirkan hal lampau,dan jangan pernah kamu ingin memutar mesin waktu ,supaya kamu bisa menyelamatkan Nuraini .." Dito menasihati 


" Kenapa ? " Dimas yang sudah agak netral bertanya pada Diri,tapi mungkin tanya basa basi

" Kalau kamu putar waktu untuk menolong Nuraini saat itu,siapa yang mau antar sekolah anakmu??Jelas nanti ibunya yang antar jemput karena ia bekerja disini...lha kapan kita ketemunya??" Dito becanda menjawab tanya Dimas yang ia tau basa basi...

Sesaat Keduanya terbahak bahak..

" Dit,walaupun aku petani ikan,aku juga mengaji.Jadi ,aku tidak akan pernah menjadi seorang yang terjerembab dalam keterpurukan jiwa hanya karena masa lalu yang menyayat...

Aku tahu,hidup ini seperti bunga didahan masa .Sejak belum mekar,bunga berharap percikan air menyiram,setidaknya tetes tetes embun yang memeluknya.

Mungkin hari ini ia beroleh,dan siapa tahu besok nya kemarau,ia tak tersaingi apa .

Tapi lusa,saat ia mekar,gerimis  tiada henti hingga ia penuh dengan kesejukan atas limpahan air...

Tiba suatu hari,ia mengering dengan sendirinya sebab dahannya telah kering dan keduanya menunggu jatuh ketanah untuk sirna selamanya..

Aku siap untuk semua itu,aku bersyukur saat bahagia,dan aku berdzikir saat nestapa,dan suatu hari aku tidak akan bisa bersyukur atau berdzikir,bila Allah SWT memanggulku...

Saat ini,aku hanya berusaha membuat catatan catatan yang terbaik untuk usai akhirku ..."  Dimas  menyampaikan sebuah gambaran dirinya dan realita hidup ...

Diro terdiam,ia merasa sebagai titik debu terkecil milik Allah ,tapi ia yakin masih punya sisa harapan kebahagiaan kelak ,jika ia berpedoman hidup seperti Dimas 


" Tak Kusangka,kamu sedewasa itu,walaupun jumlah sertifikat dan ijasahmu kerdil 

Dimas,apa yang kamu bicara itu tidak ada yang meleset,kita harus mampu dan bersiap larut  dalam kehidupan ,dulu,kini dan kelak " Dito mengomentari kalimat Dimas dengan memompa optimisme yang kental .Kedua sahabat itupun berpisah untuk hari itu ..

                                                       SELESAI

BIONARASI

Naskah Cerpen Dahan Asa ini di tulis oleh Gabriele Richard ( Sujoko)) Lahir di Kota Purbalingga ,Jawa Tengah pada tgl 15 Mei 1966.Selain hobi menulis cerita,Gabriele Richard juga menulis lagu dan bermain musik.IG @Gabriele Richard ,FB Gabriele Richard ,Email adhiless@yahoo.com ,WA 082134506127
















OPERA KEDUNGUAN - Cerpen Karya Gabriele Richard & The Holy Spirit















Kotak besar yang menyeringai ketepian jalan adalah rumahku.

Di dalamnya aku hanya merasakan kesunyian,walaupun bising kendaraan hilir mudik tak henti hingga tengah malam.

Semakin aku membayangkan hal yang romantis,atau kekerabatan yang familiar diantara Jessy dan keluarganya,semakin sepi ini menggelayut semena mena 

Jessy adalah temanku bekerja disebuah toko cemilan.

Ia hanya berpendidikan SMP,tapi ia luwes menghadapi siapa saja 

Mama papanya suka datang ke toko,ada ada alasannya.

Yang jelas,mereka ingin mengambil uang Jessy untuk kebutuhan rumah. Dan aku di toko itu  hanya sekedar pengantar pesanan di alamat pemesan dalam kota,merangkap  tukang bawa belanjaan kedalam mobil pembeli.

Aku merasa tak berarti apa apa di banding Jessy dan dihadapannya

                  """"

Suatu pagi,saat aku keluar dari kotak besar itu untuk bekerja seperti biasanya

" Kamu ngapain !? Masuk. !!" tegur Jessy saat ia melihatku hanya duduk disamping toko bagian luar..

" Toko kan kecil,kalau aku di dalam,kamu mau duduk dimana?" aku menolak nya.

" Oh ya...situ aja!! "  Jessy berkelakar seraya mengambil posisi duduk di belakang meja kasir.Aku diam menahan tawa

Lima menit kemudian ,datanglah konsumer pertama,aku berusaha menyembunyikan wajah

" Ada abon kering yang tahan sebulan? " tanya seorang yang ingin membeli barang toko

" Semua abon kering ,bisa tahan sebulan ,oom " jawab Jessy merasa di permainkan 

" Iya aku tahu ..maksudnya ,yang terbaru ..he..he..he.."  pria itu mengatakan yang tak terduga dari yang difikirkan Jessy

" Oh maaf,itu oom di rak paliiiing kiri..." Jessy menjawab seraya tangannya mengaba aba langkah pria itu .

" Ini dia. ." kata pria itu saat menemukan yang ia cari...

" Tolong di bungkus,sekalian kacang kulit sepuluh kilo .." pria itu mengambil dompet dan mengambil isinya untuk membayar..

" Tomy,tolong bawakan lima kilo kacang ke dalam mobil oom ini .." seru Jessy seraya menghitung uang..

Mampus aku!!! Dalam hati aku mengeluh ,Sebab pasti akan terjadi musibah besaaar.....!!

" Lho ,kamu!!? " Pria itu kaget saat melihat aku dan ia naik pitam saat aku mau membawa kacang ke dalam mobilnya .

" Nggak usah...biar saya bawa sendiri ..!!" Ia menghardik  dan aku mundur cepat Pria itupun memaksakan diri membawa kacang dan abon kemobilnya lalu...

Braaagg!!...Ia membanting pintu dan berlalu secepatnya. .

" Siapa itu,koq sepertinya anti banget sama kamu ?" tanya Jessy saat ia pergi

" Itu orang,nawar tanah tetanggaku ,tapi ia minta surat tanahnya untuk jaminan pinjaman kebank.

Jadi, dia mau bayar tanah pakai duit pinjaman bank tapi belum ada jaminannya 

Maka ia maksa tetanggaku untuk menyerahkan surat tanahnya 

Aku melihat itu adalah pelanggaran ,aku panggil tetangga tetangga lain untuk mencegah "  jawabku

" Lha,tetangga kamu itu ada hubungan apa dengannya?" 

" Dasar tolol!! Mungkin dulunya dia yang belikan rumah,

 Lain kali jangan campur tangan urusan rumah tangga. " tegur Jessy agak angker 

Ouw..Jessy bijak juga,hanya saja,sebenarnya  aku bohong barusan.

Sebab yang datang tadi babeku ,dia suruh aku sekolah tehnik,malah aku pilih sekolah tinggi seni.Ia marah hingga aku diusir ..

Sehingga kuliah aku batal sebab nggak ada ongkos,

Kepengin pulang kerumah  aku nggak dapat pintu...

Nasibku terdampar di toko ini . 

Gajiku hanya pas buat sewa rumah mirip kotak besar

                     ****

Sore hari,toko tutup ,Jessy menunggu dijemput seseorang ,tapi sejam lewat,yang ditunggu belum datang.

Kebetulan aku masih di sekitar toko ,sedang ketemu teman SMA yang buka toko sembako disebelah toko tempatku kerja

" Tom,bisa antar aku???"  tanya Jessy .Aku hanya beri dia isyarat untuk naik di jok belakang ,saat itu aku hampir pulang juga.

Tak lama ,aku sampai di gang rumah Jessy..

Dikiri kanan, anak anak bermain,..

Para ibu ibu terlihat banyak yang ngobrol diluar ..Dan yang mengerikan,dua tiga kelompok anak anak muda mengelilingi miras,

Heibatnya... saat Jessy dekat mereka,semua tost tangan seperti tim voly smashnya masuk .

Nah,aku panik disitu,..Bahkan,ada seorang tinggi besar hanya nyandar di teralis depan rumahnya,tanpa sepatah katapun ia meminta sesuatu pada Jessy,tapi balasan Jessy hanya kedua bahunya diangkat dan telapak tangannya mengisyaratkan ,tidak ..

Lalu aku di suruh masuk saat ia menginjak lantai depan rumahnya .

" Tom ..kamu tahu mama papaku sering datang untuk meminta uangku ? 

Dan kamu lihat bagaimana orang orang diluar itu?? 

Kamu harus tahu ... Sebentar.." 

Ia berhenti bicara dan melepas sepatu serta menyimpan tasnya

" Mama papaku tidak produktif,dulu pengusaha tapi bangkrut ..

Aku anak satu satu ya menjadi tulang punggung rumah ini ..Dan,itupun sangat tidak cukup untuk kebutuhan bertiga. " Jessy menceriterakan hal dirinya.

" Papa ,menjodohkan aku dengan tetangga,ia kaya..setiap bulan kami diberi tunjangan belanja,mesk saya belum menikah dengan tetanggaku.

Itu semua yang diluar adalah kerabat keluarga tunanganku..." 

Masih ia tidak menampakan sedang menyesali nasib atau kecewa,

Tapi ,sepertinya ia tahu isi hatiku yang tertarik bersamanya.

Lalu aku yang sebenarnya kena mental,belagak tegar bahkan menggurui

"Kamu kan perempuan,cepat atau lambat tentu akan menikah,...

Soal jodoh,memang nasib keluargamu bisa buat kita  memetik hikmah .

Tidak boleh kita menolak sesuatu yang saat ini miskin dan memburu yang saat ini kaya.

Semua bisa berubah,seperti papa dan mama kamu .

Dulu orang bersandar hidup pada usaha mereka,tentu semua mempertahankan agar mama papamu tetap bersama mereka .

Sekarang kenyataannya,untuk hidup sendiri saja harus merelakan anak banting tulang,..maaf saya bicara itu.

Maksudbya,kalau itu jodoh dari keluarga ,syukuri saja 

Apalagi keluarga tunanganmu itu penuh kasih sayang.

Dan...terimakasih sudah kamu beri kabar,kalau datang hari nikahmu,aku pasti disini " kataku dan aku pamit tanpa memperlihatkan kekecewaanku pada suratan manusia 

Sebenarnya aku bersiap mengatur siasat agar aku bisa terus bersama Jessy,ternyata aku harus membuang jauh jauh buat itu,Jessy tunangan orang lain.

Dan hak prioritasku adalah kecewa sambil patah hati.

Tapi,mungkin juga,ini adalah karma orang tuaku yang sangat memimpikan aku menjadi sarjana tehnik,aku memupus impiannya dengan mengambil kuliah seni...

Ach ...aku hari ini memiliki dua hikmah besar untuk bekal hidup entah seperti apa.. 

Pertama,orang tidak harus menerima Si kaya dan menolak si miskin,sebab suatu saat nanti sikaya itu menjadi si miskin ,disaat kitapun miskin..                                            

Kedua ..jelas,jiwaku tidak dilapisi dengan kasih sayang sejati ..

Jika aku punya kasih sayang pada papa,aku pasti nurut kata beliau....

Dan jika aku nurut kata beliau,mungkin aku jadi orang kaya yang akan bisa memperoleh cewek cewek seperti Jessy ribuan jumlahnya .

Ya,cewek yang ortunya jatuh miskin sehingga dijodohkan dengan orang kaya ,untuk sekedar menutup kebutuhan 

Yakin,mereka tidak punya kasih sayang kepada besan dan mertuanya 

Oh.  Papa...

Ijnkan saya menebus kesalahan saya,saya akan berusaha kuliah ditehnik dengan biaya hasil kerja sendiri. .

Semoga kelak kemarahan papa selesai,dan kita akan menjadi anak dan ayah yang tidak bertepuk sebelah tangan dalam menyayangi satu sama lain .

SELESAI



.


BIO NARASI

GABRIELE RICHARD & THE HOLY SPIRIT  ( Sujoko ) adalah seorang biasa yang memiliki hoby berkompetisi .Kadang kompetisi itu adalah tulis menulis cerita,kadang juga berkompetisi musik secara tertutup

Gabriele Richard ( Sujoko ) Lahir di kota Purbalingga,Jaea Tengah.Ia beragama Islam dan memiliki keunikan pendidikannya..Ia belajar segala sesuatu secara privat.

Gabriela Richard,seorang yang bercita cita sederhana ,yakni berguna bagi nusa ,bangsa dan agama. Akun IG yang dimiliki adalah @GabrieleRichard 






MATA ANGIN - Cerpen Karya Gabriele Richard & The Holy Spirit

 Peserta Lomba Cerpen & Puisi Tingkat Nasional.                                                                                    Thema : RASA INI TAK PERNAH BERUBAH                                                                                            

 


 " Bang,galon air kosong,"  Betty melapor pada Sandy  seraya  menunjukan gelas kosong tanda batal mengambil air.

" Di kamarku masih ada " Sandy menjawab tanpa menoleh,ia sibuk dengan kalkulator dan laptopnya 

Betty melangkah masuk kamar Sandy,tiba tiba ia melihat sebuah benda yang sangat ia kenal ,dan bahkan benda itu adalah pilar sejuta impiannya .Ia telah melihat sebuah guitar akustik buatan Gernan, masih mengkilap.Iaterburu buru saaat mengisi gelasnya,kemudian setengah berlari kearah Sandy


" Abang ketemu bunda  dimana?" tanya Betty agak keras

" Di stasiun kereta ,ia baru sanpai dari Yogya malam tadi.Aku diminta menjemput " jawab abangnya

" Terus,bunda kemana  ? " Betty bertanya lagi

" Ke Jakarta,ia harus meeting untuk rencana pembuatan workshop,maka gitarnya kusimpan disini .HP  nya ketinggalan “ jawab Sandy 

" Kalau bunda  pulang kesini, itu sich,memeang aku tunggu banget " Betty berkata selagi rasanya penuh harapan   .  

Betty tidak pernah menelpon bundanya, sebab ia takut akan mengacaukan situasi bundanya yang selalu berkutat dengan notasi dan guitarnya. Selain perform di event penting,ia juga mengajar online, sehingga iapun sangat jarang menelpon Betty.e

Betty kembali ke kamarnya,iapun membuka laci mejanya, ia mengambil sebuah stofmap berisi partitur musik klasik . Lalu ia ingat memainkan not not balk yang tertulis  di  partitur dengan sebuah piano disudut kamar ,untuk bundanya jika bertemu nanti.                                                                                                         

Saat Betty memainkan piano ,ia agak sering terpeleset jarinya,tapi soul di mainannya masih kuat .Ekspresinya,seolah olah ia sedang bermain untuk sosok yang paling ia hargai selain keluarganya.Tapi,saat saat tertentu menyeruak rasa sedih mendalam mengingat nasib kedua orang tuanya 

Bundanya adalah seorang master  guitarist klasik ,ia bercerai dengan ayahnya beberapa tahun lalu,ia mengikuti suami barunya di Yogya ,tapi Betty bersama Sandy tetap mengikuti ayah  dirumah ini. Hanya sayangnya,ayah Betty meninggal dunia setahun lalu .Maka Betty dan Sandy hidup tanpa ayah ibu,bahkan masih harus merawat eyang puteri mereka. Beruntung,saat ini Sandy sudah bisa mandiri sebagai pengusaha kafe dan niaga online 

" Betty,eyang putri perlu mandi,siapkan air hangat " Sandy tiba tiba berseru dari luar,dan piano Betty,mendadak juga  berhenti bunyi .

Betty merebus air untuk mandi eyang putri,dan ia menunggu mendidih seraya masih mengingat ingat notasi lagu yang tadi belum selesai. Selang waktu beberapa menit,eyang puterinya sudah masuk kamar mandi , dan air hangat sudah siap oleh Betty.

" Ingatkan abangmu,kita harus sholat Maghrib sebentar lagi " eyang puteri mengatakan itu saat ia sudah selesai mandi dan berganti baju.

" Shandy sudah keluar .Ia bilang harus temui stafnya.Kita berdua saja ,eyang " Betty menjawab seraya menyeduh teh

" Ibumu,sepertinya Minggu ini harus sudah sampai kesini, apa Shandy tidak menyebut kapan ia mau jemput? " tanya eyang puteri

" Ibu tadi malam hanya mampir sebentar di kafe,mungkin lusa bisa kerumah ini " jawab Betty

" Kamu ingat Koko?,anak laki laki pak Isnan,sopir ayahmu ..Koko dulu yang antar jemput kamu sekolah di taman kanak kanak" entah sebab apa tiba tiba ada tanya eyang puteri demikian. Betty mengingat ingat,sepertinya ia memang sangat dekat dengan yang disebut eyangnya. Seorang pria kecil,masih SD kelas empat,ia ikut membantu ayahnya bekerja di rumah ini . Mas Koko, demikian Betty menyebut semasa ia kanak kanak.


" Ingat eyang,mas Koko yang jaga saya di depan pintu kelas,ia takut kalau saya ngangis ditinggal jauh...iya,eyang...saya ingat sekali " Betty menjawab dengan sedikit kecerahan yang datang  begitu saja.

" Koko menelpon dari Papua,ia menanyakan kamu ..sekarang ia sebagai insinyur pertanian yang dipekerjakan di sana oleh pak menteri" eyang puteri menjelaskan.

Betty menebak,mungkin mas Koko ingin menelpon dia tapi tidak tahu nomor ponselnya,sehingga ia menelpon rumah dan eyang puterinya yang menjawab. Tapi ketika  Betty akan bertanya lainnya,bel pintu rumahnya berbunyi , Betty keluar untuk merespon Sosok tinggi besar dan tampan sudah berdiri di depan pintu yang baru saja dibuka Betty

" Mbak Betty? " tanya pria itu

" Betul,mas Koko?" Betty berhasil menebak siapa pria itu saat ia mengamati yang baru datang . Pria itu menyalami dan Betty membawanya keruang dalam ,menjumpai eyang puterinya.

" Kabar pak Isnan bagaimana,nak?" Tanya eyang puteri saat Koko dan Betty sudah duduk dihadapannya 

" Bapak sudah almarhum,tahun lalu di Papua ,eyang.Ibu sudah mendahului setengah tahun sebelumnya " jawab Koko terlihat agak prihatin. Eyang puteri berlinang air mata,dan Betty juga larut dalam kesedihan itu 

" Maaf,kami tidak menghubungi eyang puteri,sebab selain tempat kami jauh,saya juga tidak tahu nomer telpon disini,yang tahu ayah..." Koko memohon dimaklumi. Mereka berbincang hingga waktu sholat Maghrib,dan Koko bertindak sebagai imamnya..

                                                               ****                                                                                       Betty sedang berlatih duet instrumentalia bareng bundanya .Shandy seperti biasa,sibuk dengan kalkulator dan laptopnya . Sementara ,eyang puteri membaca ayat ayat suci Al Qur'an di samping kursi Shandy,tapi.Koko duduk dilantai depan pintu kamar Betty , mengawasi yang sedang berlatih .Sore itu ia datang lagi di rumah Betty tanpa membawa keluarganya,seperti kemarin.


Sesekali,Betty yang sedang berlatih memandang Koko seperti masih takut jika Koko akan pergi meninggalkannya . Bundanya tidak memperhatikan hal itu 

Koko,sekali sekali ikut bergumam syair lagu yang seharusnya dinyanyikan oleh singer   Tapi karena memang Betty dan bundanya memainkan Instrumentalia,hanya notasi saja yang menyepadankan bunyi guitar dan piano dengan lagu yang sedang dimainkan itu .

Betty dan Koko ,sama sama merasakan suasana yang tidak berubah seperti ketika Betty masih di taman kanak kanak,saat Koko duduk dilantai depan pintu,sesekali ikut bernyanyi lirih saat Betty dan sekelas bernyanyi di pandu sang guru .

Ketika latihan keduanya usa,Koko kembali kemeja tamu bersama Shandy,Betty dan bundanya menyusul 

" Nak Koko,tidak membawa isteri dan anak kerumah ini kenapa?" Tanya bunda Betty yang agak merasa aneh 

" Tidak Bu,sebab saya kembali kekota ini hanya untuk mengantar  kerumah orang tuanya.Kami bercerai sebulan yang lalu,dan saya mengantarnya pulang kerumah orang tuanya selamanya" Koko menjawab pelan suaranya,menahan malu dan kelu.

" Jadi nak Koko bercerai? Nantinya siapa yang akan mendampingi di Papua?" tanya bunda Betty,sementara Betty dan Shandy serta eyang puteri hanya menyimak dalam hati 

" Itu soal belakangan Bu,isteri saya kemarin tidak mau mengikuti saya di Papua karena ia hanya ingin tinggal bersama orang tuanya di kota ini ,tentunya saya akan mencari yang bersedia saya ajak kemanapun" Jawab Koko seraya melirik Betty seperti ia telah memiliki keyakinan bahwa Betty akan mendampinginya 

Betty hanya tersenyum mendengar jawaban mas Koko yang disertai lirik  tatapan aneh Dan merekapun kemudian  berbincang bincang lain hingga waktunya Koko mengundurkan diri                                                           

                                                                     ****

Shandy menyetir mobilnya,disampingnya bunda yang ia sayang.Sementara itu,Betty dan ruang puteri duduk di belakang mobil.Sesekali Shandy membaca chat di wassapp akunnya.Mereka menuju stasiun kereta api ,untuk mengantar bunda mereka.

" Jangan main hp kalau sedang bawa mobil" tegur mamanya saat ia berkali kali melihat Shandy membaca wassapp . Selagi Shandy meletakkan hp, Betty membaca chat di wassapp juga,hanya saja dia tidak ada yang keberatan melakukan itu .

" Mbak Betty,sungguh...sepulang dari rumahmu ,aku seperti menemukan mata angin yang benar untuk menuju tujuanku . Terus terang,aku merasakan sesuatu perasaan yang sama,seperti saat aku mengantarkan mba Betty ke sekolah ,duluuuu sekali " bunyi chat itu,dari Koko

Betty tersenyum,tapi agak pahit, ia juga merasakan perasaan yang tidak berubah seperti saat ia merasa takut mas Koko pergi meninggalkannya sendiri disekolah itu ... Dan saat ini, ia merasa bahagia bisa sep[erti kembali kemasa lampau, di satu sisi ,iapun merasakan ketidak nyamanan tersendiri. Ia mulai menulis

" Mas Koko,semua mahluk akan pulang pada waktunya.Hanya yang lupa tempat tinggalnya yang tertunda kepulangannya,.Percayalah mas Koko,tanpa akupun mas Koko akan sampai ketujuan yang sebenarnya..."  Balasan Betty sederhana.

Koko menulis chat seraya menyetir mobil saat itu,dan Betty membalasnya dari dalam mobil yang melaju .Tapi hanya itu saja yang sempat mereka tulis,Sebab mobil Koko tiba tiba saja keluar dari bahu jalan dan menabrak sebuah pohon besar,ia tewas seketika.

Disaat yang sama , Shandy kehilangan kendali karena ia membaca wassapp tanpa menyadari bahwa didepannya ada sebuah galian yang harus dihindari .Ketika ia hendak menghindari dengan membanting setir ke kanan,dibelakangnya  truck tronton melaju cepat dan kecelakaan tak terhindarkan .Betty,Shandy,bunda dan eyang putrinya menghembuskan nafas terakhir di sebuah  rumah sakit ,di saat baru saja masuk ICU 

Sebuah opera targedi rasa yang tak perbah berubah , tergelar memelas,memedihkan hati dan mengubur cita cita . Saat Koko baru saja  telah  menemukan mata anginnya,tiba tiba mata anginya kembara dan sirna dipelukan takdir.      SELESAI