Selasa 9 April 2024 ( pk 02.23 )
Sani baru berumur tiga belas tahun saat agresi Belanda ke dua.Ia terpaksa harus berpisah dengan keluarganya
Ayahnya seorang tentara muslim yang telah gugur dipertempuran melawan pasukan Spoor
Ibunya adalah seorang muslimah anggauta palang merah yang bertugas di belakang zona tempur ,dan Sani berumur dua belas tahun saat memaksa ikut membantu ibunya di pertempuran
Ketika ayahnya gugur tertembak ,Sani masih tidak mau menjauh dari tenda palang merah di mana ibunya bertugas
Tetapi saat ibunya terkena pecahan granat ketika menjemput rekan suaminya yang terluka,mau tidak mau Sani harus diungsikan di sebuah desa yang jauh dari zona perang.
Keadaan tidak begitu saja ..
Pasukan Belanda mengejar panglima hingga di pelosok desa…
Sebagian bertahan menyerang,sebagian mencari markas baru di gunung Kidul
Sayangnya,mereka mengejar hingga ke titik markas sementara di tepi desa ,sehingga panglima dan pasukannya harus berusaha membendung..
Saat di perjalanan ke pengungsian ..
Dari kejauhan kentara bahwa desa yang sedang ia masuki bersama tentara pendampingnya ,ialah lingkungan yang gersang dan berdebu tebal di dinding dinding rumah dan pagar pagarnya
Pintu pintu rumahnya seperempat terbuka,tapi lebih banyak yang tertutup rapat
Di dalamnya,anak anak telanjang baju dan bermain seadanya yang bisa mereka jadikan mainan.
“ Sani ,sore nanti kamu saya antar ke rumah pimpinan desa ini.Sekarang berbaringlah di kereta untuk melepas lelah “
Tentara wanita yang mengantarnya memberi pesan ,sebelum ia menemui beberapa anggauta tentara yang sudah berada di rumah rumah penduduk
Sani hanya mengangguk,dan ia menatap sungai kering yang sedang menjadi tempat bermain anak sebayanya.
Tidak ada air menggenang ,maka bayangan apapun tidak nampak di sungai itu,tapi wajah ayah bundanya yang tersenyum tergambar jelas dalam benaknya meski tidak sedang melamun
“ Bibi Elis ,perang itu untuk memerangi apa?” Tanya Alis saat melihat tentara yang mengantarnya itu kembali ke kereta .
“ Jangan tanya perang memerangi apa,tanyakan mengapa kita diperangi dan membalas “ jawabnya seraya melepas sepatu both yang berdebu tebal.
Sani tidak berani bertanya ,sebab ia tahu bahwa ia perang untuk negernya yang di minta hasil ladang dan segala yang dihasilkannya oleh negara negara lain yang tamak.
“ Bibi,apakah bibi tidak khawatir jika kemenangan perang ini berpihak pada mereka?” Tanya Sani yang lugu
Bibi Elis tersenyum,ia melempar sungai kering dengan sebuah batu ..
Beberapa anak ayam melompat terkejut…
Lalu ia bicara
“ Siapakah yang hakekatnya adalah pemenang dan si kalah itu?
Kemenangan mereka hanya akan beroleh pesta Dan kekalahan kita akan membuat kita menikmati penderitaan selagi kita di dunia ini
Apakah yang akan berpesta dengan roti dan daging yang bukan hasil jerih payahnya ,kelak akan bisa berpesta dengan hasil pekerjaan Surga? “ Tanya by bibi Elis pada Sani yang sebenarnya bukan untuk dijawab
Serombongan orang tiba tiba mendekati mereka
“ Sersan Elis,dan ananda Sani t ?” Tanya pemimpin rombongan itu yang ternyata adalah kepala desa
“ Betul tuan,saya tadi kerumah tuan tetapi pelayan mengatakan bahwa sore nanti tuan akan kembali…” jawab Bibi Elis
Tetua desa itu tertawa ramah..
“ Maaf,saya tadi mengurus kebun dan saat di beritahu ada kunjungan kalian,segera pulang “
Tetua desa itu menjelaskan
“ Bagaimana dengan Sani ,tuan ?” Tanya bibi Elis
“ Saya sudah berbicara dengan isteri ,kami menerima Sani untuk wajtu tak berbatas…
Silahkan letakan bawaannya di kamar yang kami siapkan “ kata tetua desa
“ Terimakasih ,tuan”
Bibi Elis mengucapkan terimakasih ya ,lalu mengambil tas Sani yang kecil.
Isinya hanya dua potong pakaian dan sekotak cat air.
Lalu bibi Elis membimbing Sani kerumah tetua desa itu,diiringi rombongan tetua desa dan pekerjanya
****
Siang ini,ia memasuki hari ke dua puluh ,sejak tinggal bersama kepala desa.
Seminggu sekali bibi Elis mengunjunginya
Ketua ia di kamar,terdengar pembicaraan yang tidak biasanya antara kepala desa dan bibi Elis.Janist mendengar dengan seksama,tapi tanpa diketahui keduanya
“ Heran,apa yang membuat Jenderal memerintahkan penyerangan ? Seharusnya untuk menang itu tidak demikian “
Kata Kepala Desa
“ Menurut beliau ,kita tidak punya pilihan,sebab jikalau kami tidak menyerang koloni itu saat saat ini,mereka akan masuk kedesa desa
Tentu warga sipil dalam bahaya. .” jawab Bibi Elis
“ Baiklah ,jika ada alternatif lainnya,apa bisa diterima beliau “ tanya tetua desa
Sersan Elis hanya mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa semua tergantung nanti
“ Saya punya ide..
Pertama,kita hitung dengan akurat kekuatan koloni itu
Menurut anda ,mereka punya 10 thank,beberapa pesawat tempur dan 1 500 infantri.
Jika di perbatasan tidak kita jemput dengan tembakan,tentu kita akan lebih mudah menangani,walaupun kita tidak punya thank “
Jawab kepala desa…
“ Saya prajurit,saya tidak dapat menghitung dan merancang strategi,maka saya hanya patuh pada tugas “ kata bibi Elis yang tidak memahami kalimat kepala desa .
“Maka saya mengusulkan untuk di sampaikan pada Jenderal , Saya kira,jika kita mengubah taktik sekarang belum terlambat untuk menjemput kemenangan..
Berapa pasukan yang anda pimpin ?” Tanya kepala desa
“ Saya hanya 30 anggauta “ jawabnya
“ Apakah anda bersedia menyimpang sedikit dari taktik jenderal ,untuk mengakhiri perang dengan gemilang ?”
Tanya kepala desa
“ Mungkin,sebab untuk menyerang koloni bahaya,cara apapun akan saya tempuh “
Jawab bibi Elis
Kepala desa itu mengambil pensil,lalu menggambar diatas kertas ..
Sesaat kemudian ia menyerahkan kepada bibi Elis yang segera mengamati gambar dan angka serta huruf di kertas itu,dan kemudian ia membalas respon
“ Baiklah,saya akan berunding dengan anggauta saya “
Sani membawakan secangkir teh dan kue kering untuk mereka berdua,saat ia telah mengamati dialog itu dari kamarnya
****
Masih di desa Sani yang baru ..
Beberapa domba kurus mengembik di dasar sungai yang rumputnya pun sudah mengering
Eto menggoyang goyang timbanya berkali kali untuk mendapat air di sumur yang mendangkal
“ Air sumur tinggal sedikit,mungkin hanya cukup untuk beberapa hari “ Sani menemani Etibmengangkat kerekan timba yang besar,sedangkan Eto baru berumur 13 ,sebaya Sani.
“ Setidaknya hari ini ada yang diminum domba ku “ jawab Eti,dan ia segera memberikan air itu pada ternaknya
“ Heh,jangan berdiri di situ…” Eto memperingatkan Sani yang di bibir sumur selagi ia membersihkan kotoran kuku.
Tapi,kalimat Eto agak terlambat,sebab seekor domba yang agak besar tidak kebagian air,sementara penciumannya merasakan adanya air di dekatnya,maks ia berlari untuk menilik sumur tetapi Sani teranduk ..
Saat ia merasakan keterkejutan luar biasa refleknya adalah berbalik ,tetapi ia tergelincir dan jatuh memggantung bibir sumur ..
Eto tertawa keras,karena tadi memang hal yang lucu…
Tapi ia segera menolong Sani
“ Aku sulit berjalan,ada yang bengkak di siku dan lutut ..” Janist mengeluh…
“ Biar kubantu kedalam “
Eto berkata seraya memapah pelan pelan.
Tiba tiba tetua desa ,dari jauh menyeru nama Sani
“ Saniiii!!!”
Danb ia berlari untuk memeluk Sani .Terus desa di ikuti oleh langkah langkah bibi Elis
“ Terimakasih anakku ,terimakasih …” bisiknya seraya memeluk dan bibi Elis memeluknya dari belakang…
Sani bingung,apa yang menyebabkan mereka demikian .
“ Pak Lurah,sebaiknya dijelaskan nanti kalau Sani sudah di tempat tidurnya,ia barusan ketanduk mbe…’ kata Eto menahan tawa .
“ Oh,baiklah …mari kita bawa kedalam” pak tetua membimbing pelan..
Di pembaringan,bibi Elis mengurutkan balsam,Eto berdiri di pintu ..
“ Sani,beberapa waktu lalu,...
Bapak melihat kamu menggambar dengan cat air itu ..
Bapak perhatikan dari jauh,seperti gambar hutan yang ditembus jalan kecil ..
Maka ,bapak punya inspirasi untuk menyusun siasat perang …berhasil!
Alhamdulillahirobbil ‘ alamiiin. “
Kata tetua desa itu seraya menengadahkan tangan dan pandangannya ke langit langit ..
Sani dan Eto masih bingung ..
“ Maksud pak lurah…
Karena beliau melihat gambar cat airmu,beliau menyusul siasat perang ..
Kami berpencar menyerang dari jauh sehingga pasukan musuh menyerang ke segala arah…
Perhatian mereka tidak terpusat pada kegiatan di jalan menuju kampung ini
Pads saat itu,pasukan kami memalsukan akses jalan kampung…
Yang asli di tutup pepohonan buatan
Lalu membuat jalan palsu yang didalamnya tertanam dinamit…
Paham?” Tanya bibi Elis ..
Sani dan Eto agak paham,
Jadi ,Belanda akan mengejar pasukan Republik melalui jalan palsu ,dan ….
He..he..he…
Thank sebanyak sepuluh buah diledakkan …
Tentu hancur pasukan itu …
Sani tersenyum,dan mengangguk tanda telah paham keadaan yang sesungguhnya ..
Sani memeluk bibi Elis,Eto menyalami tetua dan bibi Elis ..
Setidaknya,untuk sesaat Republik ini dapat bernafas lega ..
SELESAI
BiONARASI
Naskah cerpen ini di tulis oleh Gabriele Richard ( Sujoko )
WA 082134506127
IG : Gabriele Richard
FB : Gabriele Richard

