Sabtu, 13 April 2024

CAT AIR - Cerpen Karya Gabriele Richard & The Holy Spirit

Selasa 9 April 2024 ( pk 02.23 )





Sani baru berumur tiga belas tahun saat agresi Belanda ke dua.Ia terpaksa harus berpisah dengan keluarganya 


Ayahnya seorang tentara muslim yang telah gugur dipertempuran melawan pasukan Spoor


Ibunya adalah  seorang muslimah  anggauta palang merah yang bertugas di belakang zona tempur ,dan Sani berumur dua belas tahun saat memaksa ikut membantu ibunya di pertempuran 


Ketika ayahnya gugur tertembak ,Sani masih tidak mau menjauh dari tenda palang merah di mana ibunya bertugas


Tetapi saat ibunya terkena pecahan granat ketika menjemput rekan suaminya yang terluka,mau tidak mau Sani   harus diungsikan di sebuah desa yang jauh dari zona perang.


Keadaan tidak begitu saja ..

Pasukan Belanda mengejar panglima hingga di pelosok desa…

Sebagian bertahan menyerang,sebagian mencari markas baru di gunung Kidul


Sayangnya,mereka mengejar hingga ke titik markas sementara di tepi desa ,sehingga panglima dan pasukannya harus berusaha membendung..



Saat di perjalanan ke pengungsian ..


Dari kejauhan  kentara bahwa desa yang  sedang ia masuki bersama tentara pendampingnya ,ialah lingkungan yang gersang dan berdebu tebal di dinding dinding rumah dan pagar pagarnya


Pintu pintu rumahnya seperempat terbuka,tapi lebih banyak yang tertutup rapat 

Di dalamnya,anak anak telanjang baju dan bermain seadanya yang bisa mereka jadikan mainan.


“ Sani ,sore nanti kamu saya antar ke rumah pimpinan desa ini.Sekarang berbaringlah di kereta untuk melepas lelah “ 


Tentara wanita yang mengantarnya memberi pesan ,sebelum ia menemui beberapa anggauta tentara yang sudah berada di rumah rumah penduduk


Sani  hanya mengangguk,dan ia menatap sungai kering yang sedang menjadi tempat bermain anak sebayanya.


Tidak ada air menggenang ,maka bayangan apapun tidak nampak di sungai itu,tapi wajah ayah bundanya yang tersenyum tergambar jelas dalam benaknya meski tidak sedang melamun 


“ Bibi Elis ,perang itu untuk memerangi apa?” Tanya Alis saat melihat tentara yang mengantarnya itu kembali ke kereta .


“ Jangan tanya perang memerangi apa,tanyakan mengapa kita diperangi dan membalas “ jawabnya seraya melepas sepatu both yang berdebu tebal.


Sani  tidak berani bertanya ,sebab ia tahu bahwa ia perang untuk negernya  yang di minta hasil ladang dan segala yang dihasilkannya oleh negara negara lain yang tamak.



“ Bibi,apakah bibi tidak khawatir jika kemenangan perang ini berpihak pada mereka?” Tanya  Sani yang lugu


Bibi Elis tersenyum,ia melempar sungai kering dengan sebuah batu ..

Beberapa anak ayam melompat terkejut…

Lalu ia bicara


“ Siapakah yang  hakekatnya  adalah pemenang dan si  kalah itu?


Kemenangan mereka hanya akan beroleh pesta Dan kekalahan kita akan membuat kita menikmati penderitaan selagi kita di dunia ini


Apakah yang akan berpesta dengan roti dan daging yang bukan hasil jerih payahnya ,kelak akan bisa berpesta dengan hasil pekerjaan Surga? “ Tanya by bibi Elis pada Sani yang sebenarnya bukan untuk dijawab


Serombongan orang tiba tiba mendekati mereka


“ Sersan Elis,dan ananda Sani t ?” Tanya pemimpin rombongan itu yang ternyata adalah kepala desa


“ Betul tuan,saya tadi kerumah tuan tetapi pelayan mengatakan bahwa sore nanti tuan akan kembali…” jawab Bibi Elis


Tetua desa itu tertawa ramah..


“ Maaf,saya tadi mengurus kebun dan saat di beritahu ada kunjungan kalian,segera pulang “

Tetua desa itu menjelaskan


“ Bagaimana dengan Sani  ,tuan ?” Tanya bibi Elis


“ Saya sudah berbicara dengan isteri ,kami menerima Sani untuk wajtu tak berbatas…

Silahkan letakan bawaannya di kamar yang kami siapkan “ kata tetua desa 


“ Terimakasih ,tuan”

Bibi Elis mengucapkan terimakasih ya ,lalu mengambil tas Sani yang kecil.

Isinya hanya dua potong pakaian dan sekotak cat air.


Lalu bibi Elis membimbing Sani kerumah tetua desa itu,diiringi rombongan tetua desa dan pekerjanya



                                       ****


Siang ini,ia memasuki hari ke dua puluh ,sejak tinggal bersama kepala desa.

Seminggu sekali bibi Elis mengunjunginya


Ketua ia di kamar,terdengar pembicaraan yang tidak biasanya antara kepala desa dan bibi Elis.Janist mendengar dengan seksama,tapi tanpa diketahui keduanya


“ Heran,apa yang membuat Jenderal  memerintahkan penyerangan ? Seharusnya untuk menang itu tidak demikian “

Kata Kepala Desa


“ Menurut beliau  ,kita  tidak punya pilihan,sebab jikalau kami tidak menyerang koloni itu saat saat ini,mereka  akan masuk kedesa desa

Tentu warga sipil dalam bahaya. .” jawab Bibi Elis


“ Baiklah ,jika ada alternatif lainnya,apa bisa diterima beliau “ tanya tetua desa 


Sersan Elis hanya mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa  semua tergantung nanti 



“ Saya punya ide..

Pertama,kita hitung dengan akurat kekuatan koloni itu

Menurut anda ,mereka punya 10 thank,beberapa pesawat tempur dan 1 500 infantri.

Jika di perbatasan tidak kita jemput dengan tembakan,tentu kita akan lebih mudah menangani,walaupun kita tidak punya thank “ 

Jawab kepala desa…


“ Saya prajurit,saya tidak dapat menghitung dan merancang strategi,maka saya hanya patuh pada tugas    “  kata bibi Elis  yang tidak memahami kalimat kepala desa .


“Maka saya mengusulkan untuk di sampaikan pada Jenderal  , Saya kira,jika kita mengubah taktik sekarang belum terlambat untuk menjemput kemenangan..

Berapa pasukan yang anda pimpin ?” Tanya kepala desa


“ Saya hanya 30 anggauta “ jawabnya


“ Apakah anda bersedia menyimpang sedikit dari taktik jenderal ,untuk mengakhiri perang dengan gemilang ?”

Tanya kepala desa


“ Mungkin,sebab untuk menyerang koloni bahaya,cara apapun akan saya tempuh “ 

Jawab bibi Elis


Kepala desa itu mengambil pensil,lalu menggambar diatas kertas ..


 Sesaat kemudian ia menyerahkan kepada bibi Elis  yang segera mengamati  gambar dan angka serta huruf di kertas itu,dan kemudian  ia membalas respon 


“ Baiklah,saya akan berunding dengan anggauta saya “


Sani  membawakan secangkir teh dan kue kering untuk mereka berdua,saat ia telah mengamati dialog itu dari kamarnya 



                                              ****

Masih di desa Sani yang baru ..


Beberapa domba kurus mengembik di dasar sungai yang rumputnya pun sudah mengering 

Eto  menggoyang goyang timbanya berkali kali untuk mendapat air di sumur yang mendangkal


“ Air sumur tinggal sedikit,mungkin hanya cukup untuk beberapa hari “ Sani menemani Etibmengangkat kerekan timba yang besar,sedangkan Eto  baru berumur 13 ,sebaya Sani.


“ Setidaknya hari ini ada yang diminum domba ku “ jawab Eti,dan ia segera memberikan air itu pada ternaknya 


“ Heh,jangan berdiri di situ…” Eto memperingatkan  Sani yang di bibir sumur selagi ia membersihkan kotoran kuku.


Tapi,kalimat Eto agak terlambat,sebab seekor domba yang agak besar tidak kebagian air,sementara penciumannya merasakan adanya air di dekatnya,maks ia berlari untuk menilik sumur tetapi Sani teranduk ..


Saat ia merasakan  keterkejutan luar biasa refleknya adalah berbalik ,tetapi ia tergelincir dan jatuh memggantung bibir sumur ..


Eto tertawa keras,karena tadi memang hal yang lucu…

Tapi ia segera menolong Sani


“ Aku sulit berjalan,ada yang bengkak di siku dan lutut ..” Janist mengeluh…


“ Biar kubantu kedalam “ 

Eto berkata  seraya memapah pelan pelan.


Tiba tiba tetua desa ,dari jauh menyeru nama Sani  


“ Saniiii!!!” 

Danb ia berlari untuk memeluk Sani .Terus desa  di ikuti oleh langkah langkah bibi Elis 


“ Terimakasih  anakku ,terimakasih …”  bisiknya seraya memeluk dan bibi Elis memeluknya dari belakang…


Sani bingung,apa yang menyebabkan mereka demikian .


“ Pak Lurah,sebaiknya dijelaskan nanti kalau Sani sudah di tempat tidurnya,ia barusan ketanduk mbe…’ kata Eto menahan tawa .


“ Oh,baiklah …mari kita bawa kedalam” pak tetua membimbing pelan..


Di pembaringan,bibi Elis mengurutkan balsam,Eto berdiri di pintu ..


“ Sani,beberapa waktu lalu,...

Bapak melihat kamu menggambar dengan cat air itu ..


Bapak perhatikan dari jauh,seperti gambar hutan yang ditembus jalan kecil ..


Maka ,bapak punya inspirasi untuk menyusun siasat perang …berhasil!

Alhamdulillahirobbil ‘ alamiiin. “ 

Kata tetua desa itu seraya menengadahkan tangan dan pandangannya ke langit langit ..


Sani dan Eto masih bingung ..


“ Maksud pak lurah…

Karena beliau  melihat gambar cat airmu,beliau menyusul siasat perang ..

Kami berpencar menyerang dari jauh sehingga pasukan musuh menyerang ke segala arah…

Perhatian mereka tidak terpusat pada kegiatan di jalan menuju kampung ini


Pads saat itu,pasukan kami memalsukan akses jalan kampung…

Yang asli di tutup pepohonan buatan


Lalu membuat jalan palsu yang didalamnya tertanam dinamit…

Paham?” Tanya bibi Elis ..


Sani dan Eto agak paham,

Jadi ,Belanda akan mengejar pasukan Republik melalui jalan palsu ,dan ….

He..he..he…

Thank sebanyak sepuluh buah diledakkan …

Tentu hancur pasukan itu …


Sani tersenyum,dan mengangguk tanda telah paham keadaan yang sesungguhnya ..


Sani memeluk bibi Elis,Eto menyalami tetua dan bibi Elis ..


Setidaknya,untuk sesaat Republik ini dapat bernafas lega ..



         

                          SELESAI 



BiONARASI 



Naskah cerpen ini di tulis oleh Gabriele Richard ( Sujoko )

WA 082134506127

IG : Gabriele Richard 

FB : Gabriele Richard 






Rabu, 03 April 2024

GATRA & RAMADHAN - Cerpen Karya Gabriele Richard & The Holy Spirit

ketik artikel disini. supaya tidak bisa di copas

 

Peserta Event Berani Nulis 

GATRA DAN RAMADHAN

Cerpen Karya Gabriele Richard ( Sujoko )







Seperti halnya kota kota lain,Bulan Ramadhan kota yang berada di kaki gunung Slamet yang subur dan berusaha sejuk ,kesibukannya melebihi hari hari lain 

Kota itu adalah Purbalingga ,di tengah tengah wilayah Propinsi Jawa Tengah.

Wualaah..Kondisi ekonominya pasti menengah.  He…he..he..


Dikota itu,Gatra tinggal di kantor milik seorang pengusaha dermawan.

Sebenarnya ia dipekerjakan di kantor itu karena ia menguasai komputer dengan baik,dan juga alim.

Tetapi karena ia tidak ingin menyinggung perasaan karyawan disitu yang tidak mendapat perhatian owner seperti pada dirinya,ia menolak

Gatra seorang yatim piatu,

Saudara saudaranya tinggal di kota besar dan memiliki keluarga masing masing 

Untuk menghidupi dirinya,ia bekerja sebagai kuli panggul di sebuah kantor travel dan pengiriman paket 

“ Maaf,kalau travel ke Yogya jam berangkat jam berapa?” tanya calon penumpang wanita yang hanya membawa tas tangan

“ Biasanya jam enam sore,mau ke Yogya?” 

Gatra balas tanya seraya merapikan paket paket yang akan dimuat.

Saat itu pemilik travelnya sedang keluar

“ Oh ya,ada yang jual mendoan disekitar sini?” Tanya wanita itu 

Gatra berpikir sesaat,dan ia ingat tempatnya.

“Ada,paling dua puluh lima meter dari sini,kalau mbak mau beli,jalan ke belakang ini ,dekat “ Gatra menunjukkan gang penjual mendoan itu.

“ Takut nyasar,bagaimana kalau mas yang beli? Tolonglah,mendoan itu untuk cemilan di jalan” kata calon penumpang itu .

“ Baiklah,saya beli sebentar…” Gatra menyanggupi

Tiba tiba wanita itu bertanya lagi

“ Mas,tolong minta nomor hp nya…

Siapa tahu ada makanan lain yang saya suka,tolong di foto…” Wanita itu meminta nomor Gatra

Ia memperoleh nya dan Gatra segera berjalan ke arah gang untuk membeli mendian.Ia menerima uang duapuluh ribu.

“ Tumben kesini..” kata penjual itu yang sangat mengenal Gatra.

“ Ini ada yang nitip,beli dua puluh ribu ..

Kalau aku sering kesini,nanti di sangka niat menculik pedagangnya…” Getra menjawab dengan canda

“ Mumpung nggak ada yang beli .

Eh,katanya kamu mau hijrah ke Jakarta ? Kapan?” tanya pedagang itu ..

“ Waktunya belum tahu,kenapa ? Takut kehilangan pelanggan?” tanya Gatra 

“ Bukan gitu,soalnya kalau travel iui nggak ada kamu,bisa repot “ jawab nya

Tiba tiba hp Gatra berbunyi panggilan

“ Mas,pulsaku hampir habis..titip sekalian isi,nanti uangnya tak ganti di sini..200 ribu “

Calon penulis itu nelpon..

Gatra menghitung uang simpanannya di saku,cukup .

“ Nanti Bu,saya isi sekalian” jawab Gatra

“ Nih,mendoannya mateng..” Penjual itu menyerahkan dagangannya pada Gatra.

“ Jawabnya besok,saya terburu buru…” Gatra langsung lari ke arah counter pulsa 

Jaraknya masih dua puluh lima meter lagi dari warung itu ..

“ Broo…isi nomer ini 200 ribu .” Gatra memberikan nomer hp pada penjaga counter saat ia sampai

“ Tumben,biasanya juga isi lima ribu seminggu sekali ..” penjaga counter itu becanda

“ Titipan…buruan” Gatra mendesak..

Penjaga itu klak klik sebentar dan..

“ Sudah ,isi…”

Gatra segera kembali ke travel

Tapi…

Ia menengok kekiri ,kanan …depan ,belakang 

Hingga toilet ia periksa ,wanita itu sudah rahib dan hpnya tidak aktif

Gatra tersadar bahwa ada yang mengambil rejekinya dengan cara tidak sehat .

Tapi ia tidak menjadi panik atau menyesal karena kehilangan uang..

Ketika boss travel kembali,ia tetap bekerja tanpa bercerita sepatah katapun atas peristiwa tadi…

Sebenarnya sangat kasihan ..

Dengan uang sedikit dari kerja kerasnya,ia yang hanya sanggup membeli sedikit makanan dan pulsa untuk celularnya.

Tiba tiba ada yang merampas simpanannya yang juga sedikit

Ia yang tidak pernah mengeluh atau meminta uang kepada orang lain dan kerabatnya,harus memperoleh perlakuan buruk dari akhlak yang sebaliknya..

Sore hari menjelang bulan Ramadhan..

Ia baru saja menerima uang atas jasa panggulnya…

“ Besok kita libur dua hari,seluruh kota besar banjir…

Travel Kita belum bisa masuk,

Nah,uang sedikit itu cukupkan untuk dua hari…” Kata boss travel itu saat ia pamit pulang.

Gatra mengerti,dan ia bergegas keluarvmenuju masjid untuk sembahyang Maghrib.

Niatnya ia akan membeli makanan ala kadarnya nanti usai shalat

Tetapi karena hujan deras ,ia berteduh hingga waktu Isya..

Rasa laparnya ditahan ,

Di masjid itu,seorang tukang bakso keliling berjamaah juga,dan ia juga berteduh disitu.

Gatra membelinya untuk menghilangkan lapar.

Tetapi,saat habis makan ia tak kuasa menahan kantuk hingga ia tertidur di lantai masjid

Tengah malam ia terbangun …

Seseorang sedang dzikir didekatnya,ia baru saja sholat malam rupanya

“ Dik,tahu alamat ini?” 

Orang itu menunjukkan kartu nama dan kebetulan Gatra mengetahui

“ Dari sini,hanya ada bus pagi hari .

Desa itu di dekat monumen Jendral Sudirman ..

Bapak menginap di sini ,atau bis menggunakan grabb “

Gatra menjawab…

“ Lebih baik saya menginap,sebab di saku saya hanya ada sedikit uang untuk ongkos bus itu ..” jawab laki laki itu..

Gatra sangat khawatir akan keadaan orang itu jika harus menginap..

Maka ia mohon diri keluar masjid sebentar..

Yang Gatra tinggal pas untuk membeli sebungkus nasi dan segelas kopi .

Maks ia meminta penjual untuk membungkusnya …

“ Makan dulu pak,supaya tidak kedinginan” kata Gatra setelah ia kembali ke masjid

Orang itu makan dengan lahap,dan tertidur pulas ….

Gatra mengambil air wudhu dan berdzikir hingga takmir masjid itu menyalakan sound masjid untuk melafalkan tahlil beberapa kali..

Tapi ketika Gatra berpaling ..

Pria itu sudah tidak berada di masjid itu,aneh ..

Oh .mungkin ia pergi dan tidak berani mengganggu orang dzikir ..

Maka ia tidak berpikir apa apa lagi selain berwudhu lagi dan masuk ke masjid untuk menunggu waktu berjamaah shubuh…

Tak terasa,waktu bergulir begitu cepat …

Ramadhan yang sepertinya baru kemarin,hari hari ini telah masuk bulan Ramadhan lagi

Gatra berpikir..

Ach,mungkin doa kaum kaum salih yang enggan melepas kepergian Ramadhan tahun lalu,Sehingga Allah seperti mempercepat kehadirannya lagi …

Memang ,Ramadhan adalah saat saat terbaik bagi insan Allah untuk menabung pahala akhirat sebesar besarnya,sebagai penebus nikmat Allah yang tiada terkira besarnya yang telah dilimpahkan bagi manusia …

Gatra akhirnya sangat mensyukurinya ..

Sore hari itu … 

Komplek kuliner Kya Kya Mayong yang biasanya hanya padat pembeli antara Maghrib hingga malam hari ,sekarang jam tiga sore sudah penuh orang mengantre di warung nasi pinggir jalan

Sampai Baghda Ashar,gelombang pembeli baru menambah padat jalan,kali ini mereka adalah pembeli yang berburu takjil.

Gatra duduk diteras masjid di komplek itu

Pak Saiman dari pintu rumah yang menempel dengan gang masjid,tiba tiba menegur

“ Jam lima sore,kamu sudah menyeduh kopi,pasti akan dingin kalau di minum waktu buka nanti…”  

Pak Saiman memang melihat Rama Gatra membawa gelas kopi yang penuh ke teras masjid

“ Saya tidak punya uang buat beli kulkas,kalau diseduh sekarang,nanti kopinya dingin seperti ambil dari kulkas ..he..he..he..” Gatra menjawab seraya nyengir.  

Pak Saiman hanya senyum saja..

Ia tahu ,Ngobrol dengan Gatra memang harus selalu siap di balas banyolan

Wuuuut!!

Sebuah merpati kertas tiba tiba hinggap di atas kopiah Gatra 

Anak kecil yang menerbangkannya, sepertinya ia sengaja mengarahkan padanya.

“ Aston…

Merpatinya harus di kasih makan apa? Apa dia nggak puasa ??” Gatra bertanya seraya mengembalikan lagi merpati kertas itu

Anak kecil itu malah joged joged meledek Gatra

“ Maaf kak ….tadi maunya terbang ke pohon…” Arini kakaknya yang tidak enak hati,minta maaf pad Gatra 

“ Nggak apa,..eh,rame jualan nya? “

Gatra bertanya itu sebab keluarga Aston berdagang teh buba di ruko mininya.

Ruko itu bagian depan rumah tinggalnya.Dan Pak Saiman adalah kakek Aston.

“ Sepi kak…mungkin belum diminat.

Lagian kata orang orang sabar,rejeki itu sudah ada yang mengatur.

Mungkin lain waktu ,jualan saya rame ,”

 Arini menjawab seraya meminggirkan sampah dengan sapunya .

Lalu setelah terkumpul dibuangnya ke tong sampah di halaman masjid.

Gatra membantu membersihkan sisa sampah yang masih ada di trotoar ,lalu ia berkomentar 

“ Rien,kata ustadz yang ceramah di tarawih tadi malam ,rejeki memang Allah yang menganugerahkan kepada manusia Dan Allah memberikan melalui perantara yakni malaikat Mikail.” Gatra berkata saat ia sudah selesai dengan urusan sampah.

Aston tiba tiba bertanya polos

“ Malaikat itu oranya suka beli teh bubar??”

Arieni ketawa dan menegur .

“ Koq orangnya ,sich?? …

Malaikat Mikail itu bukan orang .

Ia mahluk ghaib yang tidak terlihat,..”

“ Cara membawa rejekinya juga tidak seperti mba Anien membawa teh buba pada pembeli ..

Kalau orangnya berani,ia mengantar rejeki dengan batang dengan padi ..

Kalau orang beternak,ia membuat ternak itu bertelur dan menetas…” .Gatra menambah kalimat Arieni menjadi lebih jelas

“ Jadi,kalau orang nya jualan teh bubar,malaikatnya jadi pembeli ?? “

Gatra dan Arueni kuwalahan…

Mereka saling pandang ,tapi Gatra mengisyaratkan agar bersabar mendidik anak seusia Aston

“ Aston..

Pedagang ada pasangannya ,yakni pembeli..

Kalau ada dagangannya,pasti ada pembelinya ..

Tapi rejeki itu bukan hanya uang dan makanan saja ..

Kalau mama,Anien,Aston dan papanya sehat,artinya malaikat Mikail itu memberi rejekinya dengan cara menjaga kesehatannya…”

Gatra menjawab seperti itupun,ia masih menghitung lagi apa benar apa salah ..

Aston tidak mendebat lagi ..ia hanya menerbangkan merpati kertasnya lagi .

Kali ini ke arah Arieni …

Mereka kejar kejaran di dalam rumahnya dengan tawa yang membahagiakan

Tiba saat Adzan di masjid lain berkumandang .

Saat itu Gatra membaca doa buka puasa…

Kemudian meminum kopi yang tadi ia seduh..

Arieni keluar rumah dan ingin pamit makan 

“ Kak,sudah waktu Adzan,saya mau buka dulu…Lho,oom Gatra sudah mendahului buka ?” tanya dia.Gatra hanya mengangguk dan tersenyum ..

Usai sholat jamaah,Gatra masuk ke warung tenda mang Ujang ,ia ingin melanjutkan buka puasanya dengan nasi dan lauk

“ Mang,jam segini warung tutup?” Tanya Gatra

“ Siapa bilang,ini lagi jualan..” mang Ujang bingung

“ Lha kalau malam ksm di buka semua tendanya,itu yang namanya warung buka .” Gatra meledek ,mang Ujang ketawa

“ Tolong goreng ayam dan nasi putih….” 

Gatra memesan.

“ Nanti kalau di gorengkan dada,protes lalu bilang pesannya paha di kasih dada …

Ayam apa? Dada,hati ampela,atau paha?” tanya mang Ujang

“ Ya ayamnya yang menggoreng lah ..aku kan hanya punya uang pas untuk bayar tahu dan tempe goreng…”

Jawab Gatra pura pura serius ..

“ Jadi,aku dan anak istriku di di sini ,kamu samakan dengan auyam??”

Mereka berdua ngajak..

Lalu ,Gatra makan dada ayam hingga kenyang 

Gatra membayar dengan uang ratusan ribu satu satunya yang ia miliki saat itu 

Kemudian masuk tokonya Bu Rani,ia ingin membeli sebungkus rokok

Tiba tiba,ia melihat uang ratusan ribu beberapa lembar dalam satu tumpukan,tergeletak di pintu toko 

Gatra bingung sesaat,ia pikir pasti uang orang beli yang jatuh di situ,tapi kemana ia harus mengantar…

Maka ia memungut dan setelah membeli rokok,duduk di samping toko yang tersedia ruang duduk …

Gatra menghitung jumlah uang itu,satu juta limarstus ribu rupiah…

Sebenarnya lumayan kalau kantongi sendiri…tapi,yang kehilangan pasti sedih,pikirnya

Gatra terus mengawasi jalanan,untuk menemukan orang yang sedang mencari uangnya ..

Tapi ,jalanan hanya motor dan mobil yang lewat.

Kalaupun ada orang,mereka baru turun dari mobil dan motornya untuk belanja di warung warung tenda ..

Ia sabar menunggu ada yang mengakui,hingga adzan sholat Isya terdengar lagi 

Saat sholat Isya dan tarawih,hati Gatra masih di liputi rasa penasaran dan kebingungan bagaimana menemukan pemilik uang itu ..

Tiba tiba ,telinganya menangkap pembicaraan di rumah sebelah masjid yang sudah kosong jamaah itu 

Hanya Gatra seorang diri yang masih di serambi memikirkan uang temuannya

“ Kalau bapak tidak bisa melunasi hutang pada Jiman ,besok bapak akan kehilangan sepeda motor ,lalu dengan apa bapak antar kalian ke skolah ? “ Suara pak Saiman sedang berbicara dengan Arini

“ Saya sudah berusaha berjualan membantu mana,tapi kata mama ,memang ini dagangan yang sepi…ya itu jadinya .

Uang tidak pernah cukup ,” jawab Arini merasa tak salah

Gatra yang mendengar itu,agak panik juga.Ia menyayangi Arieni seperti adiknya sendiri…

Tapi ia juga tidak bisa memberikan apa apa dalam saat saat seperti ini..

Gatra berdoa dalam hati..

“ Ya Allah….

Sesungguhnya aku senantiasa bersujud kepada Mu ..

Akupun ikhlas berpuasa dan menjaga lisan dan perbuatanku agar tidak menjadi murka Mu ..

Ya Allah …

Aku tidak mengeluhkan kemiskinan dan penderitasnku sebagai yatim piatu ..

Aku sadar bahwa mengikuti jalan perintah Mu adalah kehidupan yang nikmat namun bukan nikmat seperti gambaran duniawi orang orang yang tidak bersyukur ..

Maka ,terimalah doaku ya Allah

Doa bukan untuk diriku yang tidak memahami bahwa hidup di dunia ini haruslah lurus mencari keselamatan akhirat…

Ya Allah..

Berilah kebaikan pada Arini dan keluarganya untuk lepas dari tanggungan hutang dan tanggungan penghidupan sehari hari ..

Aamiin “

Gatra kemudian berwudhu ,shalat dua roka'at untuk menyatakan dirinya setia taat dan tak bergeming dari jalan Nya..

Walau ia kerap menerima kerugian dari kepentingan orang lain…

Walau ia harus mengejar angin untuk menjaring debu yang terbawa angin untuk menjadi nafkahnya .

Saat ia ingin keluar masjid tiba tiba hpnya berbunyi tanda pesan wassap

“ Mas Gatra ..

Uang di depan toko itu memang untukmu,aku mengawasi dari jauh saat mas Gatra memungutnya..

Maaf dulu aku ngeprank dengan menipu di kantor travel..

Sebenarnya itu kemauan bosd travel …

Ia ingin tahu ,sebesar apakah ketabahan muslim dalam menghadapi pancaroba hidup…

Ternyata ,ia membuktikan itu . .

Mas Gatra tidak mengadu karena di tipu..

Juga mau berbagi dalam keadaan sempit…

Mas Gatra telah membuktikan bahwa kaum muslim adalah lurus dalam ibadah dan kehidupannya

Insha Allah,ia akan minta di bimbing untuk memeluk agama Islam”

“ Subhanallah,wal hamdulillahi robbil ‘alamiin.” Gatra memekik dalam hati dan ia memeluk uang yang tadi di sakunya…

Dalam hati ia masih bergumam ..Ramadhan yang besar,Menjadi karunia orang orang beriman besar…Menjadi tambang rejeki bagi yang menantinya di jalan Allah

Lalu ,ia mengetuk pintu rumah itu,Arieni membuka .

“ Kak,mau cari teh?” tanya Arieni

“ Ya…tapi bapak yang harus antar “ jawab Gatra.

Arieni curiga,tapi ia mempersilahkan Gatra masuk 

Pak Saiman masih mengenakan Koko dan sarung ,ia tadi sholat di dalam seusai mengeluh pada Arieni.

“ Pak,kebetulan saya punya uang ,bapak bisa gunakan untuk sesuatu yang perlu sekali” kata Gatra saat pak Saiman menemuinya

Pak Saiman mengerti,bahwa obrolan dengan anaknya terdengar Gatra,tapi ia tidak bisa menolak

“ Gatra,terimakasih.  Hanya itu yang bisa bapak katakan…Tapi ,suatu hari ..

Insha Allah,bapak adalah orang pertama yang akan merestui kamu bila harus berjodoh dengan Arieni…”

Gatrapun seperti pak Saiman

Ia sadar bahwa perhatiannya pada Arieni diam diam telah terdeteksi oleh ayahnya…

“ Pak Saiman..Terimakasih ..Hanya itu yang bisa saya katakan ..

Nanti bila saya jadibjuri kontes mertua terbaik ..saya juri pertama yang akan mengatakan Yes ..”

Keduanya tertawa 

tergelak gelak dan Arieni tersipu ,tapi ia mendekat dan duduk di samping Gatra saat terus ngobrol sampai larut malam.


SELESAI





Bionarasi



Cerita ini ditulis oleh Gabriele Richard ( Sujoko )

Pada tanggal 4 April 2024

Pk 3.25 WIB

IG : @ Gabriele Richard

FB : Gabriele Richard

WA 082134506127